Dunia seni dan politik Indonesia baru saja kehilangan salah satu putra terbaiknya, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra. Kepergian bungsu Proklamator RI Soekarno ini meninggalkan duka mendalam sekaligus memantik kembali kenangan akan perjalanan hidupnya yang kaya makna. Di tengah suasana berduka, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Surya Paloh, membagikan sebuah kisah reflektif yang menguak sisi lain dari sosok seniman multitalenta tersebut.
Kisah ini terungkap saat Surya Paloh melayat ke kediaman almarhum Guruh Soekarnoputra, tak lama setelah kabar duka menyelimuti Tanah Air pada Sabtu (26/9). Surya Paloh menuturkan, Guruh, yang dikenal luas atas dedikasinya pada seni dan budaya, pernah berada di persimpangan jalan, menimbang apakah ia pantas untuk mengambil peran sebagai pimpinan partai politik.
“Dia sering berkonsultasi sama saya. Dulu juga pernah membicarakan, ‘Apakah saya pantas untuk menjadi pimpinan, pucuk pimpinan partai?'” kenang Surya Paloh, merefleksikan percakapan intim mereka. Jawaban dari seorang kakak yang bijak pun meluncur, mengarahkan Guruh kembali ke panggilan jiwanya. “Saya ingatkan, sebenarnya sebagai kakak saya bilang, kamu lebih cocok ke bidang seni budaya,” tambahnya, menggambarkan sarannya yang penuh pertimbangan.
Saran tersebut, yang diberikan dengan penuh kehangatan, ternyata diterima dengan baik oleh Guruh. Ini menjadi titik krusial dalam perjalanan hidupnya, mempertegas jalan yang ia pilih untuk ditempuh. Guruh kemudian dikenal luas sebagai maestro seni yang tak hanya melestarikan, tetapi juga berinovasi dalam seni pertunjukan, tari, dan musik tradisional Indonesia, menjadikannya salah satu ikon kebudayaan yang tak tergantikan.
Dedikasinya pada seni budaya bukan sekadar pilihan karier, melainkan sebuah manifestasi dari kecintaan mendalam terhadap warisan bangsa. Ia membuktikan bahwa pengaruh seorang individu tidak harus selalu diukur dari kursi kekuasaan politik, melainkan juga dari sumbangsih nyata dalam memperkaya dan memajukan peradaban melalui karya-karya kreatif. Keberaniannya untuk mengikuti naluri seni, meski sempat menimbang godaan politik, adalah pelajaran berharga bagi banyak pihak.
Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra menghembuskan napas terakhirnya di usia 73 tahun setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Kabar duka ini sebelumnya telah dikonfirmasi oleh politisi PDI Perjuangan, Cyril Raoul Hakim (Chiko Hakim), dan turut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, yang menyebutkan bahwa almarhum meninggal dunia pada hari Sabtu yang sama.
Kepergian Guruh bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan kerabat dekat, melainkan juga bagi seluruh masyarakat Indonesia yang mencintai seni dan budaya. Kisah reflektif dari Surya Paloh ini menjadi pengingat akan jejak Guruh yang unik dan inspiratif, sosok yang memilih untuk mengukir sejarah bukan di ranah kekuasaan, melainkan di panggung kebudayaan, di mana warisannya akan terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang.

