Site icon Media KotaKita

Senandung Terakhir Maestro Bangsa: Guruh Soekarnoputra Berpulang, Tinggalkan Warisan Seni dan Politik yang Tak Lekang

Duka mendalam menyelimuti bumi pertiwi. Salah satu putra terbaik bangsa, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, menghembuskan napas terakhir pada Sabtu, 26 September, di usia 73 tahun. Kepergian sosok multitalenta ini, yang dikenal luas sebagai maestro seni budaya sekaligus salah satu pewaris trah Soekarno, meninggalkan kekosongan yang terasa di panggung nasional.

Kabar duka ini dengan cepat menyebar dan menuai respons belasungkawa dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pemimpin negara dan tokoh-tokoh penting. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan dukacita mendalam melalui platform media sosialnya, mengapresiasi dedikasi dan sumbangsih almarhum Guruh bagi bangsa dan negara, baik di kancah seni budaya maupun politik. “Terima kasih dan rasa hormat yang mendalam atas dedikasi serta sumbangsih beliau,” tulis Presiden, mendoakan agar amal ibadah almarhum diterima di sisi-Nya.

Tak hanya Presiden, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebelumnya, Sandiaga Uno, juga turut mengungkapkan kesedihannya. Sandiaga mengenang Guruh sebagai “tokoh nasional serta maestro kebudayaan dan ekonomi kreatif” yang telah memberikan kontribusi signifikan, khususnya melalui perannya di Swara Mahardhika serta kiprahnya di dunia politik. Dari kalangan politisi PDI Perjuangan, partai yang juga menaungi Guruh, ungkapan dukacita datang dari Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Mohamad Guntur Romli, hingga anggota Komisi X DPR RI Rieke Diah Pitaloka, yang semua menekankan kehilangan atas sosok yang penuh dedikasi.

Guruh Soekarnoputra, anak bungsu dari proklamator Ir. Soekarno dan Fatmawati, serta adik dari Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, memang memiliki jejak yang tak terhapuskan di ranah seni. Sejak muda, bakatnya dalam seni tari dan musik telah memukau banyak pihak. Ia adalah arsitek di balik berdirinya grup kesenian legendaris Swara Mahardhika dan GSP Production. Kecemerlangannya juga terlihat saat ia mendirikan Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama musisi-musisi kenamaan seperti Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye.

Melalui tangan dinginnya, lahir berbagai karya musik yang menjadi pilar dalam khazanah lagu populer Indonesia. Sebut saja “Kala Sang Surya Tenggelam”, “Melati Suci”, “Zamrud Khatulistiwa”, “Lenggang Puspita”, “Mahadaya Cinta”, hingga “Galih dan Ratna” yang abadi. Lagu-lagu tersebut bukan sekadar melodi, melainkan cerminan kekayaan budaya dan jiwa bangsa yang Guruh tuangkan dengan apik. Latar belakang pendidikannya pun beragam, mulai dari Arkeologi di University of Amsterdam hingga Ilmu Administrasi Negara di STIAMI, menunjukkan minatnya yang luas dan pemikirannya yang komprehensif.

Almarhum Guruh Soekarnoputra wafat setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Kepergiannya adalah pengingat akan pentingnya melestarikan warisan budaya yang ia ukir dengan tinta emas. Guruh bukan hanya seorang anak presiden, melainkan seorang seniman sejati, seorang pemikir, dan seorang patriot yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan seni dan kebudayaan Indonesia. Semoga segala pengabdian dan karya-karyanya menjadi ladang pahala dan terus menginspirasi generasi mendatang.

Exit mobile version