Site icon Media KotaKita

Merajut Kisah Pengabdian: Jalan Ratjih Natawidjaja Diresmikan, Jadi Simbol Teladan di Sumedang

Sumedang, KotaKita.com – Kabupaten Sumedang kini memiliki sebuah penanda baru yang tak hanya menghubungkan dua titik, namun juga merajut kembali kisah inspiratif seorang tokoh panutan. Jalan Ratjih Natawidjaja, nama yang kini abadi di salah satu ruas jalan Sumedang, diresmikan oleh Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, pada Selasa lalu. Peresmian ini bukan sekadar seremoni infrastruktur, melainkan sebuah deklarasi penghormatan mendalam terhadap jejak pengabdian Ratjih Natawidjaja, seorang perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pendidikan, kesejahteraan sosial, dan harmoni masyarakat.

Agus Gumiwang, yang turut hadir sebagai perwakilan keluarga, menggarisbawahi esensi dari teladan Ratjih: bahwa kontribusi nyata kepada bangsa dan masyarakat tidak pernah menunggu jabatan atau kedudukan. “Janganlah menunggu memiliki kedudukan untuk mulai berbuat baik. Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat dari posisi kita saat ini, dengan segala kemampuan yang kita miliki,” tegasnya, menyoroti pentingnya semangat tanpa pamrih yang menjadi inti pengabdian Ratjih. Pesan ini diharapkan bergema, khususnya di kalangan generasi muda, untuk menginspirasi mereka agar senantiasa berkarya dan memberikan dampak positif.

Ratjih Natawidjaja dikenal sebagai sosok yang cakap memadukan perannya dalam keluarga dengan kepeduliannya yang luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Berlandaskan nilai-nilai keagamaan yang kuat, setiap langkahnya selalu diarahkan pada kemaslahatan dan keberlanjutan. Jejak nyata pengabdiannya terlihat dari kontribusinya dalam pendirian Yayasan Pendidikan Islam Dwiwarna di Bogor, serta wakaf tanah yang kini menjadi Pondok Pesantren dan Islamic Center (Pusdai) Kabupaten Sumedang. Fasilitas-fasilitas ini tak henti menebarkan manfaat, menjadi bukti abadi akan visi dan dedikasinya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperkuat sendi-sendi spiritual masyarakat.

Kisah hidup Ratjih yang penuh inspirasi ini bahkan telah diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Anak Guru dari Sumedang: Kisah Pengabdian Ratjih Natawidjaja”. Buku tersebut merangkum perjalanan seorang perempuan yang lahir dari keluarga guru di Sumedang, kemudian berani menembus berbagai tantangan zaman untuk berkiprah di multi-sektor. Manfaat dari pengabdiannya masih terus terasa hingga kini, membuka gerbang pendidikan dan ibadah bagi banyak orang, jauh setelah sosoknya berpulang.

Dalam pidatonya, Agus Gumiwang juga mengaitkan semangat pengabdian Ratjih dengan falsafah luhur Sunda: “silih asah, silih asih, silih asuh“. Falsafah ini, yang berarti saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling membimbing, menjadi cerminan sempurna dari nilai-nilai yang diusung Ratjih sepanjang hidupnya. Semangat kolektif ini, menurutnya, krusial untuk terus dipupuk di tengah masyarakat, memastikan bahwa setiap pembangunan dan kemajuan dapat dirasakan bersama, menciptakan masyarakat yang kokoh dan berkesinambungan. Peresmian jalan ini, oleh karenanya, bukan hanya menamai sebuah ruas jalan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat luhur pengabdian bagi Sumedang, Jawa Barat, dan Indonesia.

Exit mobile version