Site icon Media KotaKita

Ketika Rudal Houthi Mengguncang Riyadh: Menyelami Akar Konflik Yaman yang Tak Kunjung Usai

Awan kelabu kembali menyelimuti langit ibu kota Arab Saudi, Riyadh, setelah serangkaian serangan rudal dan drone yang diklaim dilancarkan oleh milisi Houthi dari Yaman. Insiden terbaru ini, yang juga menyasar fasilitas vital perminyakan di Yanbu, bukan sekadar sebuah serangan terisolasi, melainkan babak baru dalam siklus kekerasan yang telah berlangsung lama, menandai eskalasi signifikan setelah periode relatif tenang.

Pertahanan udara Arab Saudi segera merespons, berhasil mencegat sebagian besar proyektil. Namun, sirene peringatan yang melengking dan laporan warga yang mendengar ledakan keras, bahkan di area dekat kedutaan asing, menggarisbawahi betapa dekatnya ancaman ini dengan jantung kehidupan sipil. Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh bahkan mengalami penundaan penerbangan massal, dengan kepulan asap yang terlihat di sekitar kawasan bandara, mencerminkan disrupsi yang ditimbulkan. Meskipun belum ada laporan korban jiwa, dampak psikologis dan kerugian potensial terhadap infrastruktur tetap menjadi perhatian serius.

Untuk memahami mengapa Arab Saudi terus menjadi target, kita harus menelusuri akar konflik Yaman yang mendalam. Segalanya bermula dari gejolak Musim Semi Arab 2011 yang mengguncang stabilitas rezim Presiden Ali Abdullah Saleh. Transisi kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansour Hadi, justru membuka kotak Pandora masalah di Yaman: korupsi merajalela, krisis pangan akut, ancaman kelompok militan, dan perpecahan internal militer yang akut.

Dalam kekosongan kekuasaan tersebut, kelompok Houthi, yang dikenal sebagai Ansar Allah, bangkit. Berasal dari komunitas Zaydi di Yaman utara, Houthi telah lama menentang dominasi pemerintah pusat dan pengaruh Arab Saudi di negara mereka. Gerakan ini memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat terkait isu politik, agama, ekonomi, dan marginalisasi di wilayah utara. Pada 2014, Houthi melancarkan ofensif besar, merebut Sanaa, ibu kota Yaman, dan memaksa Presiden Hadi mengungsi, memicu perang saudara yang brutal.

Melihat perkembangan ini sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya, Arab Saudi pada Maret 2015 memimpin koalisi militer beranggotakan delapan negara Arab, didukung oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Tujuannya adalah mengembalikan pemerintahan Hadi yang sah secara internasional dan menahan ekspansi Houthi, yang dituduh Saudi menerima dukungan militer dari Iran – tuduhan yang dibantah oleh Teheran.

Namun, harapan untuk kemenangan cepat sirna. Konflik Yaman berubah menjadi perang berkepanjangan yang mematikan, diperparah oleh kompleksitas faksi-faksi anti-Houthi yang juga memiliki agenda terpisah, termasuk separatisme Yaman selatan. Setelah bertahun-tahun pertempuran sengit, upaya mediasi PBB pada 2022 sempat membuahkan kesepakatan gencatan senjata. Periode tersebut memberikan secercah harapan, meskipun rapuh.

Sayangnya, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dalam beberapa bulan terakhir, situasi kembali memanas. Houthi memperluas kendali mereka di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk wilayah strategis di sekitar Mokha dan Bab el-Mandeb. Serangan drone dan rudal terhadap instalasi militer, bandara, kota-kota, dan infrastruktur energi Saudi menjadi respons Houthi terhadap operasi koalisi di Yaman, sementara Riyadh menilai serangan tersebut sebagai ancaman terhadap warga sipil dan fasilitas vitalnya. Siklus saling balas menuduh ini menunjukkan bahwa konflik Yaman, dengan segala kerumitan historis dan geopolitiknya, masih jauh dari kata usai, terus menghantui stabilitas regional.

Exit mobile version