Dunia maya kembali digegerkan oleh terungkapnya praktik penyalahgunaan zat psikoaktif dalam kemasan yang kian mengkhawatirkan. Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta berhasil membongkar jaringan peredaran Etomidate, sebuah zat yang disalahgunakan dan dikemas dalam bentuk cairan vape. Kasus ini tak hanya menyeret tiga tersangka utama, tetapi juga mengungkap keterlibatan seorang figur publik, Julia Prastini atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jule, sebagai pengguna.
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar akhir pekan lalu, aparat kepolisian mengumumkan penetapan tiga tersangka dari total empat individu yang diamankan. Dua tersangka berinisial RR dan RN diidentifikasi sebagai bandar, sementara seorang warga negara asing (WNA) berinisial XC asal China turut ditetapkan sebagai tersangka. Ketiganya diduga kuat terlibat dalam rantai pasok dan distribusi zat adiktif tersebut. Penangkapan ini bermula dari penggerebekan di sebuah apartemen di Kembangan, Jakarta Barat, pada Senin (14/9), di mana polisi berhasil menyita 27 buah cartridge vape berisi Etomidate.
Etomidate sendiri bukanlah zat sembarangan. Secara medis, Etomidate adalah agen anestesi intravena yang kuat, digunakan di lingkungan rumah sakit untuk induksi anestesi umum. Penyalahgunaan zat ini di luar pengawasan medis dapat menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya, mulai dari depresi pernapasan, gangguan kardiovaskular, hingga kerusakan neurologis jangka panjang. Modus pengemasannya dalam cairan vape menandai tren baru yang mengkhawatirkan, menjadikannya mudah disamarkan dan sulit dideteksi, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan perangkat vape.
Kasus ini menjadi sorotan publik tak hanya karena jenis zatnya, melainkan juga karena terungkapnya Julia Prastini, seorang selebgram, sebagai pengguna. Polisi, setelah serangkaian pemeriksaan, memutuskan untuk menetapkan Jule sebagai korban penyalahgunaan narkoba. Melalui pendekatan restorative justice, Jule akan menjalani proses asesmen dan rehabilitasi, sebuah langkah yang menyoroti komitmen penegak hukum dalam membedakan antara pengedar dan pengguna. Dari pengakuannya, Jule mulai mengonsumsi vape berisi Etomidate sekitar 2-3 minggu sebelum penangkapan, dengan alasan pribadi seperti stres atau tekanan hidup lainnya.
Keberadaan WNA asal China dalam jaringan ini mengindikasikan dimensi internasional dalam peredaran narkoba jenis baru, menuntut kewaspadaan lebih dari aparat penegak hukum dalam memutus mata rantai pasok dari luar negeri. Penemuan 27 cartridge vape Etomidate adalah bukti betapa masif dan terselubungnya peredaran zat terlarang ini dengan modus operandi yang terus berevolusi. Upaya pencegahan dan penindakan harus terus diperkuat, diiringi edukasi publik mengenai bahaya laten narkoba yang kini hadir dalam berbagai bentuk inovatif.
Kasus Etomidate dalam vape ini adalah pengingat keras akan tantangan berkelanjutan dalam memberantas peredaran narkoba. Ini cerminan dinamika kejahatan narkoba yang semakin kompleks, menargetkan siapa saja, bahkan figur publik. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap konsumsi produk vape yang tidak jelas asal-usul dan kandungannya, demi menjaga generasi penerus bangsa dari ancaman bahaya narkoba yang mematikan.

