Langkah nyata pemulihan pascabencana terus diakselerasi oleh pemerintah bagi para penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 2.029 unit Hunian Sementara (Huntara) secara resmi mulai diserahterimakan kepada warga yang kehilangan tempat tinggal akibat guncangan gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda wilayah Manggarai Timur pada pertengahan Agustus lalu.
Penyerahan kunci secara simbolis menjadi momen krusial sekaligus titik awal harapan baru bagi masyarakat terdampak. Keluarga Agustinus Rangga, warga Kampung Bugis, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, terpilih menjadi penerima pertama fasilitas hunian darurat berukuran 4×6 meter tersebut. Bangunan ini siap menampung Agustinus bersama istri dan anaknya dari keterbatasan tenda pengungsian.
Direktur Wilayah II sekaligus Ketua Satgas BNPB Manggarai Timur, dr. Riswandi, mengonfirmasi bahwa target pembangunan ribuan unit huntara tersebut disusun berdasarkan data rekapitulasi kerusakan fisik bangunan yang tergolong berat. Proses pengerjaan infrastruktur ini dilakukan secara bertahap dan telah mencapai progres yang sangat signifikan, yakni sekitar 95 persen.
Pembangunan difokuskan mulai dari area darat hingga pesisir, mencakup wilayah Kecamatan Borong, lalu meluas ke zona utara, tengah, sampai selatan Manggarai Timur. Huntara dirancang agar memenuhi standar kelayakan tinggal, tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem, serta menjamin keselamatan penghuninya sebelum nantinya Hunian Tetap (Huntap) selesai dibangun.
Selain memfasilitasi tempat tinggal sementara, pemerintah juga memberikan fleksibilitas bagi warga yang memutuskan untuk menetap sementara di rumah kerabat. Skema bantuan stimulan tetap disalurkan secara adil, disesuaikan dengan kategorisasi kerusakan tempat tinggal awal, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga rusak berat.
Pemerintah Daerah Manggarai Timur menegaskan bahwa model huntara yang diserahkan di Kecamatan Borong akan menjadi standar baku penataan bagi seluruh unit lanjutan. Dengan penyerahan yang terus bergulir, diharapkan seluruh warga terdampak bencana yang masih bertahan di posko pengungsian dapat segera berpindah ke tempat yang jauh lebih aman, nyaman, dan manusiawi.

