Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat terus meluas dan melalap kawasan pegunungan di Jawa Timur. Hingga Sabtu (19/9), sedikitnya tiga gunung—yakni Gunung Kawinajang, Gunung Buthak, dan Gunung Wilis—terdampak karhutla dengan total luas area yang hangus diperkirakan sudah menembus lebih dari 1.500 hektare.
Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, kerusakan terparah melanda kawasan Gunung Kawinajang yang berbatasan langsung dengan Gunung Buthak. Di wilayah tersebut, si jago merah telah menghanguskan sekitar 1.459 hektare vegetasi dan angkanya diprediksi masih dapat bertambah seiring belum padamnya kobaran api.
Sementara itu, titik kebakaran lain juga meluas ke area hutan Gunung Wilis yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Nganjuk. Luas lahan yang terbakar di kawasan puncak gunung tersebut diperkirakan telah mencapai 50 hektare. Medan yang sangat curam serta terjal menyulitkan para relawan dan petugas untuk menjangkau titik api secara langsung.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengungkapkan bahwa operasi penanganan dilakukan secara intensif melalui jalur darat maupun udara. Tim pemadam gabungan yang terdiri dari unsur BPBD, Perhutani, relawan, hingga asosiasi warga setempat terus berpacu dengan waktu untuk menahan laju penyebaran api.
Untuk pemadaman udara, petugas mengerahkan unit Helikopter PK-DAP dengan metode pemboman air (water bombing). Mengusung kantong air berkapasitas 1.000 liter, helikopter tersebut telah menjatuhkan ribuan liter air di kawasan Gunung Buthak dan Gunung Kawinajang. Kendati demikian, tebalnya kabut yang menutupi lokasi kerap mengganggu jarak pandang pilot dan menghambat efektivitas operasi udara.
Di jalur darat, tantangan medan ekstrem memaksa tim penanggulangan memfokuskan strategi pada pembuatan sekat bakar (firebreak). Langkah antisipasi ini dilakukan terutama di kawasan Gunung Malang serta Puncak Gunung Wilis guna memutus rantai rambatan api agar tidak makin meluas ke area lain.
Hingga saat ini, personil gabungan masih disiagakan di berbagai titik pantau untuk mengawasi pergerakan titik api di tebing-tebing terjal. Petugas mengimbau masyarakat sekitar untuk tetap waspada dan tidak mendekati kawasan rawan karhutla.

