Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Yogyakarta didera kabar kurang sedap. Sebanyak 413 orang yang terdiri dari siswa, guru, hingga karyawan di SMKN 2 Yogyakarta diduga mengalami gejala keracunan massal setelah menyantap paket makanan yang dibagikan pada Rabu (16/9). Kasus ini pun langsung memicu penyelidikan mendalam dari pihak dinas terkait.
Kepala Disdikpora DIY, Raden Suci Rohmadi, mengungkapkan bahwa gejala keracunan baru dirasakan para korban pada malam hari setelah mengonsumsi hidangan tersebut. Keluhan yang dilaporkan cukup beragam, mulai dari perut mual, pusing, hingga gangguan pencernaan akut seperti diare. Keesokan harinya, laporan serupa kian melonjak hingga pihak sekolah berinisiatif menyebarkan angket mandiri untuk mendata korban terdampak.
Berdasarkan laporan awal, paket makanan tersebut disuplai oleh SPPG Sleman Depok Caturtunggal 3 sebanyak 1.952 porsi yang dibagikan dalam dua sesi. Paket tersebut tiba di sekolah sekitar pukul 09.00 WIB dan diwajibkan untuk dikonsumsi sebelum pukul 10.00 WIB demi menjaga kualitas makanan. Menu hari itu terdiri dari nasi putih, ayam gongso, tempe crispy, tumis labu siam, wortel, serta buah pisang.
Setelah dilakukan koordinasi dan investigasi internal sementara, muncul dugaan kuat bahwa menu olahan ayam gongso yang disajikan tidak matang dengan sempurna saat diolah oleh mitra dapur. Namun, dugaan ini masih bersifat sementara sembari menunggu hasil resmi uji laboratorium.
Meski ratusan orang melaporkan keluhan medis, sejauh ini baru ada satu korban yang terkonfirmasi berobat secara resmi ke Puskesmas Gamping setelah mengeluhkan sakit perut melilit selama dua hari berturut-turut. Hingga saat ini, beruntung belum ada laporan mengenai korban yang harus menjalani rawat inap atau observasi intensif di fasilitas kesehatan.
Sebagai langkah mitigasi cepat, pihak SMKN 2 Yogyakarta telah memutuskan untuk menghentikan sementara penerimaan Makan Bergizi Gratis sejak Jumat (18/9) guna menunggu proses investigasi rampung. Di sisi lain, Kepala KPPG Sleman, Harsono Budi Waluyo, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu hasil verifikasi medis resmi dari otoritas kesehatan yang berwenang.

