Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pesan mendalam sekaligus kritik tajam terhadap kalangan akademisi tanah air yang dinilai kurang memiliki kepekaan nasionalisme. Sentilan ini ia utarakan saat menghadiri acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.
Dalam pidato kebangsaannya, Prabowo secara terbuka mengaku heran dengan sikap sejumlah intelektual bergelar profesor yang justru membela kepentingan asing. Baginya, seorang akademisi berpendidikan tinggi seharusnya menjadi motor penggerak keadilan dan pelindung kedaulatan bangsa, bukan sebaliknya.
“Aku heran kadang-kadang, ada profesor tetapi tidak bisa melihat ketidakadilan. Profesor yang justru malah membela kepentingan orang-orang asing,” ungkap Prabowo di hadapan para santri dan tokoh masyarakat.
Prabowo menekankan bahwa pemimpin masa depan Indonesia dituntut untuk memiliki kecerdasan yang luar biasa agar tidak mudah dikelabui oleh bangsa lain. Ia mengingatkan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan yang diimbangi dengan kebebasan berpikir yang orisinal, tanpa mudah terpengaruh propaganda luar.
Ia juga menyoroti keselarasan antara motto Pondok Gontor dan nilai-nilai yang ditanamkan di Akademi Militer (Akmil). Nilai moral seperti berbudi luhur, kejujuran, dan keikhlasan mutlak diperlukan dalam kepemimpinan nasional agar terhindar dari praktik korupsi terselubung.
Prabowo mengajak seluruh masyarakat untuk bercermin pada sejarah kelam masa penjajahan kolonial. Ia menegaskan tekad bersama agar Indonesia tidak lagi berada di bawah kendali negara lain. Menurutnya, kekuatan nasional yang solid sangat dibutuhkan agar Indonesia tidak hanya mampu mempertahankan diri, tetapi juga dapat membantu negara-negara tertindas lainnya di panggung dunia.
“Kita harus berani mengakui kelemahan-kelemahan kita sendiri agar bisa terus belajar dan memperbaikinya. Kekuatan sejati lahir dari keberanian menghadapi kenyataan dan komitmen pantang menyerah untuk mandiri,” tutup Kepala Negara.

