Site icon Media KotaKita

Tepis Kekhawatiran Militerisme, Presiden Prabowo Beberkan Alasan Keterlibatan TNI-Polri di Sektor Sipil

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, akhirnya buka suara menanggapi kritik publik terkait semakin intensifnya keterlibatan aparat TNI dan Polri di ranah sipil, termasuk dalam program ketahanan pangan dan pertanian. Prabowo menegaskan bahwa langkah tersebut diambil semata-mata demi menjawab kebutuhan riil di lapangan, khususnya di wilayah-wilayah pelosok yang sulit dijangkau.

Dalam tayangan program Presiden Prabowo Menjawab, Kepala Negara melontarkan pertanyaan retoris kepada para pengkritik mengenai kesiapan pihak lain untuk bertugas di medan-medan yang penuh tantangan. Menurutnya, aparat memiliki kesiapan logistik dan disiplin tinggi untuk ditugaskan di kawasan terpencil guna membantu percepatan program strategis pemerintah.

“Sekarang gini, banyak protes, ada apa tentara, polisi ikut pertanian. Sekarang silakan, siapa yang mau di daerah-daerah susah itu?” tegas Prabowo saat merespons polemik tersebut.

Prabowo membantah keras anggapan bahwa pelibatan aparat keamanan bakal mempersempit ruang gerak masyarakat sipil (civil society). Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki bentang geografis yang luar biasa luas dengan ratusan juta penduduk, sehingga memerlukan kolaborasi seluruh elemen negara demi menjamin pemerataan kesejahteraan dan stabilitas.

Terkait proporsi kekuatan pertahanan, Prabowo menyinggung kalkulasi rasio ideal jumlah prajurit berbanding total populasi suatu bangsa. Secara teoritis, rasio militer ideal berada di kisaran satu persen dari total warga negara. Jika merujuk pada populasi Indonesia yang kini mendekati 290 juta jiwa, kebutuhan ideal tersebut setara dengan sekitar 2,9 juta personel.

Selain menyentuh aspek ketahanan pangan, mantan Menteri Pertahanan itu juga menyoroti dampak positif kehadiran aparat keamanan bagi ketertiban masyarakat di daerah. Menurut laporan para kepala daerah, mulai dari bupati hingga gubernur, keberadaan pos-pos pengamanan terbukti efektif menekan angka kriminalitas dan menghadirkan rasa aman yang nyata bagi warga setempat.

“Kalau kita tanya bupati, gubernur, tanya rakyat, mereka benar-benar merasakan kehadiran. Yang tadinya enggak ada pasukan, ada pasukan, kriminalitas jauh menurun, keamanan dirasakan rakyat sangat meningkat,” pungkasnya optimis.

Exit mobile version