Pentingnya sebuah buku dalam membentuk karakter atau memberikan titik balik dalam hidup seringkali menjadi kisah menarik, apalagi jika datang dari sosok pemimpin negara. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, baru-baru ini berbagi sebuah cerita personal yang cukup menyentuh tentang bagaimana sebuah karya sastra mampu menjadi pelipur lara dan sumber kekuatan di masa-masa paling menantang dalam hidupnya. Buku yang dimaksud adalah “Warrior of the Light”, buah pena dari novelis Brazil kenamaan, Paulo Coelho.
Pengakuan ini disampaikan Prabowo dalam program “Presiden Prabowo Menjawab”, di mana ia membuka lembaran masa lalu yang penuh gejolak. Ia menceritakan bagaimana pada awal tahun 2000-an, setelah menghadapi berbagai tuduhan dan tekanan publik pasca peristiwa politik 1998/1999, ia berada dalam apa yang disebutnya sebagai “titik nadir” kehidupan. Sebuah fase di mana ia merasa terpuruk, kehilangan arah, dan dihadapkan pada cobaan yang amat berat. Di tengah badai tersebut, sang kakak, Maryani Djojohadikusumo, memberikannya sebuah buku yang tipis namun sarat makna.
“Warrior of the Light” bukanlah sekadar fiksi biasa. Buku ini, yang sering dianggap sebagai panduan filosofis, mengajak pembacanya untuk merenungkan makna keberanian, ketekunan, dan pencarian jati diri. Melalui alegori dan perumpamaan, Coelho menguraikan sifat-sifat “prajurit cahaya” – individu yang berani menghadapi ketakutannya, menerima kekurangannya, dan terus berjalan meski rintangan menghadang. Bagi Prabowo, pesan-pesan dalam buku itu terasa begitu relevan dengan pergulatan batinnya kala itu.
Ia mengaku tak bisa menahan air mata saat melahap setiap halaman buku tersebut. Seolah-olah, kata-kata Coelho berbicara langsung kepadanya, memberikan pemahaman, validasi, dan harapan di saat ia paling membutuhkannya. Pengalaman emosional ini menyoroti kekuatan literatur sebagai medium penyembuhan dan pencerahan, yang mampu menembus dinding pertahanan diri seseorang dan menyentuh inti terdalam jiwa. Sebuah pengingat bahwa bahkan di tengah hiruk pikuk politik dan kekuasaan, manusia tetaplah makhluk yang rentan dan membutuhkan dukungan, baik dari sesama maupun dari inspirasi tak terduga.
Melihat dampak positif yang luar biasa pada dirinya, Prabowo Subianto tidak ragu untuk merekomendasikan “Warrior of the Light”, dan karya-karya Paulo Coelho lainnya seperti “The Alchemist”, kepada generasi muda Indonesia. Pesan yang ingin disampaikannya jelas: di era penuh ketidakpastian ini, mencari inspirasi dan panduan melalui bacaan adalah investasi berharga. Buku dapat menjadi teman setia yang membimbing kita melewati masa-masa sulit, mengajarkan ketahanan, dan mengingatkan kita akan kekuatan batin yang mungkin belum kita sadari. Kisah personal Presiden ini menjadi bukti nyata bahwa di balik setiap sosok publik, ada perjalanan pribadi yang membentuk, dan seringkali, sebuah buku memainkan peran krusial dalam perjalanan tersebut.

