Site icon Media KotaKita

Operasi SAR Kapal Arupadatu Dihentikan, Keluarga Jurnalis Gelar Tabur Bunga di Selat Sunda

Suasana haru menyelimuti perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, ketika pihak keluarga korban bersama aparat kepolisian menggelar prosesi tabur bunga dan doa bersama. Aksi ini menjadi simbol perpisahan sekaligus penghormatan terakhir bagi lima jurnalis dan tiga awak kapal Speed Boat Arupadatu 1 yang dilaporkan hilang kontak sejak awal September lalu.

Kegiatan yang memilukan tersebut dilaksanakan tak lama setelah tim SAR gabungan secara resmi menutup operasi pencarian yang telah berlangsung selama 10 hari. Dengan menggunakan armada milik Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Banten, keluarga korban berlayar menuju titik penyisiran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para korban yang belum ditemukan.

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, mengonfirmasi bahwa upacara di laut tersebut diselenggarakan sebagai bentuk penguatan moril dan empati mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian beserta instansi terkait akan terus memberikan dukungan emosional kepada keluarga korban yang sedang berduka.

Operasi pencarian skala besar ini sebelumnya melibatkan sinergi dari berbagai unsur, termasuk jajaran Basarnas Banten, Lampung, hingga Bengkulu. Selama sepuluh hari berturut-turut, petugas menyisir area perairan Selat Sunda dengan melacak berbagai petunjuk. Namun, hingga tenggat waktu operasi berakhir, tidak ada tanda-tanda keberadaan maupun serpihan dari kapal cepat Arupadatu 1 beserta delapan penumpangnya.

Keputusan berat untuk menghentikan pencarian diambil sesuai dengan kriteria standar operasional prosedur penanggulangan bencana dan pencarian korban. Kendati operasi resmi SAR telah diakhiri, duka mendalam tetap menyelimuti komunitas pers dan keluarga korban yang terus berharap ada keajaiban atas peristiwa tragis di kawasan perairan Gunung Anak Krakatau tersebut.

Exit mobile version