Provinsi Jawa Tengah kembali menarik perhatian investor global. Kali ini, investor asal Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), resmi menanamkan modal jumbo sebesar Rp5 triliun untuk membangun proyek mini refinery atau kilang minyak mini di Kabupaten Jepara. Proyek strategis ini dirancang memiliki kapasitas pengolahan awal mencapai 10 ribu barel minyak per hari, dengan target jangka panjang hingga 60 ribu barel per hari.
Kesepakatan penting ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama antarbadan usaha antara pihak investor dan Perumda Aneka Usaha Jepara di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Langkah cepat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ahmad Luthfi mendapat apresiasi tinggi dari pihak investor karena dinilai mempermudah proses birokrasi investasi yang telah dijajaki selama hampir satu tahun.
Komisaris Nusantara Petroleum and Petrochemical, Talal Ourfali, mengungkapkan bahwa dukungan penuh dari pemerintah daerah menjadi kunci utama percepatan proyek ini. Menurutnya, proses dari komunikasi awal hingga kesepakatan berjalan sangat efisien berkat komitmen kuat dari jajaran pemerintah daerah.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan komitmennya untuk mengawal penuh realisasi investasi ini hingga tuntas. Sebagai langkah konkret, ia langsung berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) guna menjamin kepastian pasokan minyak mentah (crude oil) yang menjadi bahan baku utama operasional kilang.
Di tengah dinamika geopolitik dan tantangan ekonomi global, kehadiran investasi bernilai triliunan rupiah ini menjadi bukti nyata bahwa Jawa Tengah tetap menjadi magnet investasi yang kondusif dan aman bagi para pelaku usaha internasional. Proyek kilang minyak mini ini diharapkan tidak hanya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jepara, tetapi juga membuka ribuan lapangan kerja baru serta menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar.
Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menambahkan bahwa calon investor telah melakukan survei lapangan, termasuk meninjau lokasi pendaratan kapal untuk logistik minyak mentah. Sinergi antara pemerintah daerah, BUMD, dan investor asing ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi regional sekaligus memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal.

