Distribusi air bersih di sejumlah kawasan Jakarta Barat belakangan ini mengalami hambatan yang dikeluhkan oleh warga setempat. Menanggapi situasi tersebut, Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya menegaskan bahwa gangguan suplai air yang terjadi bukan disebabkan oleh dampak musim kemarau atau kekeringan, melainkan murni akibat adanya anomali suplai dan kendala teknis pada jaringan pipa.
Humas PAM Jaya, Gatra Vaganza, menjelaskan bahwa ketersediaan air baku untuk wilayah DKI Jakarta saat ini masih berada dalam taraf yang sangat aman. Tingginya muka air di sumber air baku memastikan bahwa kapasitas produksi tidak terganggu oleh cuaca panas ekstrem. Dengan demikian, isu kekeringan global tidak memiliki pengaruh langsung terhadap volume air yang diproduksi oleh PAM Jaya.
Sebagai langkah solutif mengatasi gangguan operasional ini, PAM Jaya menerapkan skema suplai darurat. Pihak BUMD DKI Jakarta ini mengirimkan bantuan air bersih menggunakan armada mobil tangki langsung ke pemukiman pelanggan yang terdampak kemacetan aliran air.
Sebagai contoh, sepanjang bulan Agustus lalu, PAM Jaya telah menyalurkan air bersih ke Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk. Selain itu, respons cepat juga dilakukan di Kelurahan Kapuk dengan mengerahkan sedikitnya enam unit mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan harian warga yang terdampak gangguan teknis jaringan.
Di sisi lain, keluhan dari masyarakat terkait keandalan layanan PAM masih kerap terdengar. Ketua RW 03 Kelurahan Sukabumi Selatan, Nurdin, menyampaikan bahwa warga di wilayahnya sering mengeluhkan aliran air yang tidak stabil. Menurutnya, air PAM kerap mati di siang hari dan baru mengalir pada malam hari dalam durasi yang relatif singkat.
Melalui klarifikasi ini, PAM Jaya berkomitmen untuk terus meningkatkan keandalan infrastruktur distribusinya. Warga yang mengalami kendala pasokan air diimbau untuk segera melapor agar tim teknis dapat segera melakukan pengecekan dan mengirimkan bantuan tangki air bersih sebagai solusi sementara.

