Site icon Media KotaKita

Polisi Pastikan Temuan Jasad di Kali Terate Bukan Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

Polda Banten memberikan klarifikasi penting terkait teka-teki penemuan jasad di muara Kali Terate, Kramatwatu, Kabupaten Serang. Berdasarkan hasil identifikasi medis dan pencocokan data primer, pihak kepolisian memastikan bahwa jenazah tersebut bukan merupakan bagian dari rombongan jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda sejak awal September lalu.

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Ahiles Hutapea, menegaskan bahwa kesimpulan ini diambil setelah tim forensik melakukan pemeriksaan mendalam. Dengan kepastian ini, spekulasi yang sempat beredar di tengah masyarakat mengenai identitas jasad tersebut akhirnya terbantahkan. Polisi mengimbau publik untuk tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi spekulatif yang belum teruji kebenarannya.

Di sisi lain, perhatian kepolisian kini juga tertuju pada penemuan jasad lain di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Jasad berjenis kelamin laki-laki dengan perkiraan usia di atas 50 tahun dan tinggi badan sekitar 165 cm tersebut kini tengah menjalani proses autopsi. Polisi masih menunggu hasil analisis DNA untuk mengetahui apakah jasad tersebut memiliki kecocokan dengan keluarga kru atau jurnalis yang hilang.

“Proses autopsi sudah dilakukan di Polda Bengkulu. Kami masih menunggu hasil pencocokan DNA dari pihak keluarga korban yang hilang kontak untuk memastikan identitasnya,” ungkap Maruli.

Tragedi hilangnya rombongan ini bermula pada Senin (7/9), ketika lima jurnalis foto bersama tiga awak kapal bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang. Mereka menggunakan speedboat Arupadatu menuju kawasan vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk keperluan peliputan. Namun, kapal cepat tersebut kehilangan kontak dan hingga kini keberadaannya masih misterius.

Adapun lima jurnalis yang dilaporkan hilang adalah Muhammad Bagus Khoirunas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu). Sementara tiga awak kapal yang mendampingi adalah Warta (nakhoda), Surakman (ABK), dan Heriyanto (pemandu wisata).

Mengingat batas waktu pencarian standar telah habis, Kantor SAR Banten memutuskan untuk memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari. Langkah ini diambil guna memaksimalkan penyisiran di area Selat Sunda demi menemukan titik terang atas hilangnya delapan korban tersebut.

Exit mobile version