Upaya pencarian terhadap rombongan jurnalis foto yang dilaporkan hilang kontak di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, kini memasuki babak baru yang lebih luas. Memasuki hari kedelapan, tim penyelamat memperluas area penyisiran hingga ke wilayah perairan Bengkulu. Langkah ini diambil menyusul adanya perkiraan medis bahwa para korban terbawa arus laut yang kuat menuju arah barat laut Pulau Sumatera.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Banten, Riski Dwiyanto, menjelaskan bahwa koordinasi erat telah dijalin dengan kantor SAR Bengkulu guna memaksimalkan cakupan wilayah pencarian. Berdasarkan simulasi peta penyelamatan (SAR map), pergerakan arus laut menunjukkan potensi besar korban hanyut ke arah utara. Oleh karena itu, armada penyelamat dari Bengkulu dikerahkan untuk menyisir zona-zona kritis di wilayah hukum mereka.
Operasi penyelamatan skala besar ini tidak main-main. Sebanyak 647 personel gabungan dikerahkan dengan dukungan alutsista yang sangat tangguh. Berbagai kapal perang dan kapal penyelamat taktis diturunkan ke lapangan, termasuk KRI Gilimanuk, KRI Leuser, KN SAR Antasena, hingga kapal patroli kepolisian. Pada hari kedelapan ini, area pencarian mencakup luas yang sangat masif, mencapai 3,9 ribu mil laut (nautical miles/NM).
Kendati demikian, tim di lapangan harus berhadapan dengan tantangan alam yang cukup berat. Cuaca di sekitar lokasi diprakirakan cerah berawan, namun tinggi gelombang laut dilaporkan bisa mencapai 2,5 meter dengan kecepatan angin berkisar antara 5 hingga 20 knot yang bertiup dari tenggara ke selatan. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh kru penyelamat yang bertugas.
Di tengah proses pencarian yang menegangkan, muncul sebuah petunjuk krusial. Polda Bengkulu dilaporkan tengah melakukan proses autopsi dan pengambilan sampel DNA terhadap sebuah jenazah tanpa identitas yang ditemukan terdampar di pesisir Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Temuan misterius ini langsung dikoordinasikan dengan Polda Lampung guna mencocokkan data medis, mengingat rombongan jurnalis tersebut hilang sejak 7 September lalu saat mendokumentasikan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

