Misteri menyelimuti perairan Selat Sunda. Sejak Senin, 7 September lalu, delapan individu, termasuk lima jurnalis pemberani dan tiga awak kapal, hilang kontak saat meliput gejolak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Insiden ini memicu operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) besar-besaran yang terus digencarkan oleh tim gabungan, menghadapi medan yang menantang dan harapan yang menipis.
Tim SAR gabungan, yang dikoordinir oleh Basarnas Banten, telah mengerahkan segala upaya untuk menyisir setiap sudut yang memungkinkan. Kepala Seksi Operasi Basarnas Banten, Risky Dwi, menjelaskan bahwa penyisiran darat telah dilakukan secara menyeluruh di sejumlah pulau strategis, seperti Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. “Penyisiran darat kita sudah lakukan ke seluruh area Pulau Sertung dan hasil masih nihil. Kemudian untuk Pulau Rakata juga sudah kita lakukan penyisiran darat, Pulau Panjang kita sudah lakukan penyisiran darat,” ungkap Risky pada Selasa, 15 September.
Namun, tantangan besar masih membayangi. Area pencarian yang begitu luas di perairan Selat Sunda menjadi kendala utama, terutama untuk upaya penyelaman. Risky Dwi memaparkan bahwa tim belum dapat menerjunkan penyelam karena ketidakpastian lokasi terakhir kapal Arupadhatu 1 yang membawa rombongan tersebut. “Untuk penyelaman kita terkendala karena memang luas area kita yang terlalu luas dan kita tidak ketahui posisi terakhir kapal tersebut ada di mana,” jelasnya, menyoroti kompleksitas operasi di tengah laut lepas.
Fokus pencarian kini dipersempit berdasarkan temuan material, meskipun belum terbukti secara langsung terkait dengan kapal yang hilang. Tim SAR mencoba menyisir kembali titik-titik di mana jaket pelampung dan material lainnya ditemukan di Sektor X, berharap petunjuk baru dapat mengarahkan mereka kepada keberadaan para jurnalis dan awak kapal. Misi para jurnalis ini adalah mengabadikan erupsi Gunung Anak Krakatau, sebuah tugas yang penuh risiko namun vital untuk penyebaran informasi.
Hilangnya rombongan ini menjadi pengingat pahit akan bahaya yang mengintai di balik tugas jurnalistik, terutama di zona bencana alam. Dengan cuaca yang tak menentu dan arus laut yang kuat di Selat Sunda, setiap jam berlalu dengan penuh kekhawatiran. Meskipun demikian, komitmen tim SAR untuk menemukan delapan individu yang hilang ini tetap tak tergoyahkan, melanjutkan pencarian dengan semangat pantang menyerah demi keluarga yang menunggu kabar.

