Operasi penyelamatan dan pencarian (SAR) terhadap rombongan jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda kini telah memasuki hari ketujuh. Upaya pencarian terus diintensifkan secara masif dengan memperluas jangkauan wilayah penyisiran guna menemukan delapan korban yang dilaporkan hilang saat menjalankan tugas jurnalistik meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menegaskan bahwa seluruh kekuatan dan sumber daya yang ada telah dikerahkan secara optimal. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan armada laut, udara, hingga pemantauan jalur darat terus dimaksimalkan demi mendapatkan titik terang keberadaan para korban.
“Memasuki hari ketujuh ini, fokus kami adalah mengoptimalkan seluruh potensi SAR yang ada. Kami membagi area operasi ke dalam tujuh sektor strategis di Selat Sunda agar pencarian berjalan lebih terstruktur dan efektif,” ungkap Al Amrad dalam keterangan resminya.
Penyisiran intensif pada hari ketujuh ini mencakup area yang sangat luas, yang dibagi menjadi Sektor X (831 NM²), Sektor Z (512 NM²), Sektor V (1.182 NM²), Sektor W (1.167 NM²), Sektor U (481 NM²), Sektor Y (413 NM²), dan Sektor H (2.063 NM²). Berbagai kapal utama seperti KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KRI Leuser, hingga kapal patroli kepolisian dikerahkan membelah ombak Selat Sunda.
Tidak hanya mengandalkan armada laut, pencarian juga didukung penuh dari udara dengan menerjunkan helikopter jenis HR 3604 serta dua unit drone thermal milik Basarnas yang mampu mendeteksi suhu tubuh atau objek di permukaan air. Langkah ini diambil untuk mengatasi kendala jarak pandang dan luasnya medan pencarian.
Tantangan utama di lapangan adalah kondisi cuaca ekstrem yang dinamis. Cuaca dilaporkan berawan dengan kecepatan angin mencapai 10 hingga 20 knot, serta gelombang laut yang berkisar antara 0,5 hingga 2,5 meter. Kendati demikian, Al Amrad mengingatkan seluruh personel untuk tetap mengutamakan keselamatan selama bertugas.
Sebagai informasi, insiden memilukan ini bermula ketika lima jurnalis bersama tiga awak kapal berangkat menggunakan kapal cepat (speedboat) dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang. Mereka berencana mendokumentasikan erupsi Gunung Anak Krakatau sebelum akhirnya dinyatakan hilang kontak.
Hingga kini, publik terus mendoakan keselamatan para korban, yang terdiri dari lima jurnalis foto senior dari berbagai media nasional dan internasional, serta tiga kru kapal berpengalaman yang mendampingi perjalanan mereka.

