Site icon Media KotaKita

Menepis Polarisasi Global: ASEAN Pilih Jalur Diplomasi dan Dialog Hadapi Ketegangan Geopolitik

Di tengah eskalasi tensi geopolitik global yang kian memanas, Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menegaskan komitmennya untuk tetap menjadikan diplomasi dan dialog sebagai benteng pertahanan utama. Langkah ini dinilai krusial demi menjaga stabilitas kawasan dari pengaruh polarisasi kekuatan besar dunia.

Pernyataan tersebut ditekankan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, saat memberikan pidato kunci dalam pertemuan ASEAN Think Tanks Summit (ATTS) ke-3 yang berlangsung di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta. Menurutnya, investasi pada meja perundingan adalah instrumen prioritas yang tidak bisa ditawar lagi bagi negara-negara anggota.

Kao Kim Hourn menjelaskan bahwa kekuatan utama ASEAN terletak pada landasan hukum yang kokoh, salah satunya adalah Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) yang kini telah genap berusia 50 tahun. TAC secara konsisten mengajarkan penolakan terhadap penggunaan kekuatan militer serta mempromosikan penyelesaian konflik secara damai di Asia Tenggara.

Namun, tantangan masa kini jauh lebih kompleks dengan munculnya berbagai aliansi keamanan baru di luar ASEAN. Menurut Kao Kim Hourn, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memastikan arsitektur regional yang kian kompleks tidak terpecah-belah, sehingga proses diplomasi yang dipimpin ASEAN tetap memiliki pengaruh dan koherensi kuat.

Menjelang usia emas ASEAN yang ke-60 pada tahun 2027 mendatang, kepemimpinan organisasi ini didorong untuk mengevaluasi efektivitas pola kerja kerja sama yang ada. Forum ATTS kali ini diharapkan mampu merumuskan rekomendasi kebijakan yang inovatif dan relevan dengan lingkungan strategis masa kini.

Pertemuan ini juga sejalan dengan arah kepemimpinan Filipina tahun ini yang mengusung tema “Navigating Our Future, Together”. Sebagai catatan bersejarah baru, kekuatan kolektif ASEAN kini kian solid dengan bergabungnya Timor-Leste sebagai anggota penuh ke-11 sejak Oktober 2025 silam, memperkuat posisi kawasan dalam menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Exit mobile version