Di tengah pesatnya modernisasi, keberadaan ruang publik fisik yang bebas akses kini semakin tergerus dan beralih fungsi menjadi area komersial. Menyikapi fenomena ini, akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Prof Uceng, menekankan pentingnya buku sebagai sarana alternatif untuk membuka kembali ruang publik non-fisik bagi masyarakat luas.
Dalam diskusi bertajuk “Gerakan Literasi untuk Republik” di Semarang, Prof Uceng mengungkapkan bahwa membaca buku bukan sekadar aktivitas individu yang pasif. Membaca mampu membangun kesadaran kolektif sekaligus menciptakan ruang diskursus, perdebatan sehat, dan pertukaran wacana baru.
“Saat ini kita kesulitan menemukan ruang publik gratis seperti lapangan bermain anak. Banyak yang telah berubah menjadi fasilitas olahraga berbayar. Akibatnya, masyarakat terkotak-kotak dalam komunitas eksklusif,” ujar pakar hukum tata negara tersebut. Menurutnya, literasi adalah kunci penting untuk meruntuhkan sekat-sekat pemisah sosial tersebut.
Acara yang digelar di Gramedia Jalma Semarang ini juga menandai peluncuran buku kumpulan cerita fiksi terbaru berjudul “Cerita Khatulistiwa”. Sang penulis, A. Fuadi, turut membagikan tiga formula emas dalam menulis karya fiksi yang memikat. Menurutnya, sebuah buku harus menyajikan informasi baru, menghibur, dan memiliki kemampuan “ability to escape” yang membawa pembaca sejenak berkelana dari penatnya realitas hidup sehari-hari.
Diskusi inspiratif ini juga menghadirkan aktivis muda Gustika Jusuf-Hatta dan CEO Gramedia Pustaka Utama, Andi Tarigan. Kegiatan ini merupakan bagian pembuka dari rangkaian perayaan Pesta Literasi Indonesia 2026 yang mengusung tema kampanye #MembacaRepublik.
Menurut Immanuel Victorian Naffi selaku Ketua Pelaksana Pesta Literasi Indonesia 2026, perluasan acara ke empat kota besar—Semarang, Jakarta, Kupang, dan Palembang—merupakan jawaban atas tingginya antusiasme literasi di daerah. Setelah sukses dibuka di Semarang, festival literasi ini dijadwalkan menyapa Jakarta pada akhir September, Kupang pada pertengahan Oktober, dan ditutup dengan meriah di Palembang pada awal November mendatang.

