Upaya pencarian terhadap rombongan jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda kini memasuki hari keenam. Tim SAR Gabungan terus memperluas area penyisiran hingga mencapai 6.010 mil laut persegi (NM²). Langkah taktis ini diambil guna memaksimalkan pencarian terhadap delapan orang korban yang hingga kini belum ditemukan keberadaannya sejak dilaporkan hilang pada Senin (7/9) lalu.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengungkapkan bahwa operasi penyelamatan ini melibatkan berbagai strategi matang dan pengerahan alutsista canggih. Untuk menyisir area yang sangat luas tersebut, Tim SAR membagi wilayah operasi menjadi enam sektor strategis (Sektor V, W, Z, Y, X, dan H). Pencarian ini mengombinasikan kekuatan dari udara, laut, hingga penyisiran darat.
Teknologi Canggih Mulai Dikerahkan
Tidak hanya mengandalkan armada kapal seperti KRI Kerambit, KRI Teluk Gilimanuk, dan KN SAR Basudewa, operasi ini juga mengerahkan helikopter HR 3604 untuk pantauan udara. Guna mendeteksi objek di area yang sulit dijangkau, Basarnas turut menerjunkan dua unit drone thermal berkemampuan tinggi. “Kami berupaya mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada demi menemukan para korban,” ujar Al Amrad dalam keterangan resminya.
Peristiwa memilukan ini bermula ketika rombongan yang terdiri dari lima jurnalis foto dan tiga awak kapal berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang. Mereka menggunakan kapal cepat (speedboat) menuju Gunung Anak Krakatau untuk mendokumentasikan aktivitas vulkanik terbaru. Namun, di tengah perjalanan, kapal tersebut mendadak hilang kontak dan tidak pernah sampai ke tujuan.
Identitas Korban Hilang
Kelima jurnalis yang tengah menjalankan tugas jurnalistik tersebut di antaranya adalah Muhammad Bagus Khoirunas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu). Sementara tiga korban lainnya adalah nakhoda kapal, seorang anak buah kapal (ABK), serta seorang pemandu lokal.
Operasi kemanusiaan skala besar ini melibatkan ratusan personel gabungan dari Basarnas Banten, TNI, Polri, Lanal Banten, BPBD, BNPB, hingga relawan masyarakat. Pihak berwenang juga mengimbau kapal-kapal sipil yang melintasi Selat Sunda untuk segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan puing kapal atau para korban.

