Peristiwa mencekam kembali terjadi di wilayah perairan Indonesia Timur. Sebuah kapal motor berbobot GT 27, KM Balama, dilaporkan mengalami kerusakan mesin berat hingga berujung hilang kontak saat melintasi jalur pelayaran dari Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menuju Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara. Insiden ini membahayakan keselamatan tiga orang yang berada di atas kapal, yakni seorang kapten beserta dua anak buah kapal (ABK).
Berdasarkan informasi resmi yang dirilis oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Palu, kapal tersebut awalnya bertolak dari Pelabuhan Rakyat di Luwuk Banggai pada Sabtu dini hari sekitar pukul 01.00 WITA. KM Balama dijadwalkan berlayar menuju kawasan Jorjoga, Pulau Taliabu. Namun, di tengah perjalanan melintasi perairan antara Luwuk dan Taliabu, sistem penggerak kapal mengalami kegagalan fungsi berupa kerusakan kritis pada bagian as. Kerusakan fatal ini membuat kapal kehilangan daya jelajah hingga akhirnya seluruh komunikasi terputus total.
Kepala Basarnas Palu, Muh Rizal, mengonfirmasi bahwa setelah mendapat laporan darurat, tim SAR gabungan langsung diterjunkan ke lokasi kejadian. Operasi penyelamatan ini melibatkan personel dari Tim Rescue Pos SAR Luwuk yang didukung penuh oleh keandalan armada kapal penyelamat KN SAR Bhisma. Langkah cepat ini diambil demi mengantisipasi potensi bahaya yang lebih besar mengingat kondisi kapal yang terombang-ambing tanpa mesin di tengah lautan lepas.
“Kami mendapati laporan terkait kerusakan pada bagian as yang menyebabkan KM Balama tidak dapat melanjutkan pelayaran. Sesaat setelah kendala teknis tersebut, komunikasi dengan seluruh ABK terputus. Tim SAR gabungan langsung bergerak menggunakan KN SAR Bhisma menuju titik koordinat perkiraan,” ujar Muh Rizal dalam keterangannya.
Di sisi lain, parameter cuaca di sekitar perairan Luwuk-Taliabu saat operasi pencarian berlangsung dipantau dalam kondisi berawan. Gelombang laut tercatat berada pada rentang ketinggian 0,5 hingga 1 meter, dengan kecepatan angin bertiup dari arah tenggara berkisar antara 7 hingga 20 knot. Meskipun kondisi gelombang tergolong moderat, ketidakpastian cuaca maritim tetap menuntut kesiapsiagaan tinggi dari para personel pencari.
Hingga saat ini, penyisiran intensif di jalur pelayaran Luwuk-Taliabu terus digencarkan. Masyarakat pesisir dan kapal-kapal yang melintas juga diimbau untuk segera memberikan informasi jika menemukan keberadaan armada tersebut. Kejadian ini kembali menjadi pengingat krusialnya pemeriksaan kelayakan teknis armada kapal sebelum melakukan pelayaran jarak jauh demi menjamin keselamatan jiwa di laut.

