Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengambil langkah tegas dengan menutup total seluruh akses dan aktivitas wisata di kawasan Gunung Bromo. Kebijakan ini diambil menyusul meluasnya titik api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan taman nasional tersebut. Penutupan menyeluruh ini diberlakukan di empat pintu masuk utama demi memprioritaskan keselamatan pengunjung serta mempercepat proses pemadaman api.
Keputusan penutupan total ini merupakan eskalasi dari pembatasan yang sempat diberlakukan sebelumnya. Petugas gabungan yang terdiri dari personel TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta relawan peduli api kini tengah berfokus melakukan pemadaman darat. Tantangan terbesar di lapangan adalah hembusan angin kencang dan kondisi vegetasi savana yang sangat kering, membuat api cepat menjalar ke area perbukitan sekitarnya.
Adapun empat pintu masuk menuju kawasan wisata Gunung Bromo yang ditutup total meliputi jalur Coban Trisula di Kabupaten Malang, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, serta Senduro di Kabupaten Lumajang. Penutupan ini berlaku untuk seluruh jenis kunjungan, baik untuk rekreasi, petualangan, ritual keagamaan, maupun aktivitas adat, hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Dampak dari kebakaran ini tidak hanya mengancam keselamatan manusia, melainkan juga merusak ekosistem khas Bromo, termasuk flora endemik dan habitat satwa liar di kawasan konservasi tersebut. Oleh karena itu, sterilisasi area dari aktivitas manusia sangat diperlukan agar fokus penanggulangan bencana dapat berjalan optimal tanpa hambatan logistik maupun evakuasi warga.
Bagi calon wisatawan yang telah melakukan booking tiket secara online, pihak TNBTS menyediakan mekanisme penjadwalan ulang (reschedule) begitu kondisi kembali kondusif. Masyarakat luas diimbau untuk terus memantau perkembangan resmi melalui kanal informasi TNBTS dan menghindari spekulasi informasi yang tidak akurat terkait kondisi terkini di lapangan.

