Pertemuan puncak antara Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di New Delhi menandai babak baru dalam dinamika geopolitik Asia. Kedua pemimpin negara dengan populasi terbesar di dunia ini sepakat untuk memperkokoh hubungan bilateral dan berkomitmen menjadi mitra strategis jangka panjang.
Dalam pertemuan penting tersebut, Presiden Xi menekankan bahwa Beijing selalu memandang hubungan dengan New Delhi dari kacamata strategis yang visioner. Menurut Xi, China dan India harus saling mendukung untuk tumbuh bersama sebagai representasi kekuatan utama Global South. Ia memaparkan empat poin utama untuk menjaga stabilitas hubungan kedua negara, termasuk memperkuat komunikasi multilateral di forum PBB, SCO, dan G20, serta meningkatkan kerja sama konkret seperti penerbangan langsung dan pertukaran budaya.
Senada dengan Xi, PM Narendra Modi menegaskan kebijakan luar negeri India yang independen dan bebas dari pengaruh pihak ketiga dalam membina hubungan dengan China. Modi menegaskan bahwa India menganggap kemajuan China sebagai peluang besar, bukan ancaman. Di samping itu, India tetap konsisten pada kebijakannya terkait isu sensitif seperti Taiwan dan Tibet, serta berkomitmen untuk mencegah wilayahnya digunakan untuk aktivitas anti-China.
Rekonsiliasi ini menjadi sangat bersejarah mengingat hubungan kedua raksasa Asia ini sempat membeku pasca-bentrokan berdarah di Lembah Galwan, wilayah perbatasan Himalaya pada tahun 2020. Insiden tersebut sempat memicu ketegangan militer yang hebat. Namun, melalui serangkaian diplomasi intensif yang dimulai sejak KTT SCO 2025, kedua belah pihak kini sepakat untuk menjaga perdamaian di wilayah perbatasan dan menyelesaikan perselisihan secara damai.
Langkah progresif ini diharapkan tidak hanya membawa angin segar bagi stabilitas ekonomi dan keamanan regional, tetapi juga menjadi pilar penyeimbang di tengah ketidakpastian global saat ini. Dengan bersatunya visi China dan India, lanskap politik internasional diprediksi akan mengalami pergeseran kekuatan yang signifikan menuju multipolaritas.

