Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kini memasuki babak baru. Dua siswi yang menjadi korban dengan dampak terparah, Febiona dan Agnesia, resmi dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk mendapatkan perawatan medis dan psikologis yang lebih intensif. Langkah cepat ini diambil atas instruksi langsung dari Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.
Kedua siswi tersebut diberangkatkan melalui Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang. Penjabat Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, melepas langsung keberangkatan mereka dan menegaskan bahwa meskipun fasilitas medis di Medan sebenarnya mumpuni, rujukan ke ibu kota ini merupakan bentuk perhatian khusus dari pemerintah pusat agar kondisi korban dapat dipantau langsung oleh Wapres.
Menurut keterangan tim medis, Febiona dan Agnesia mengalami dampak kesehatan yang jauh lebih berat dibandingkan ratusan korban lainnya. Febiona dilaporkan mengalami gejala kejang-kejang hingga gangguan ingatan pasca-kejadian. Sementara itu, Agnesia harus berjuang melawan komplikasi yang menyerang fungsi organ ginjalnya. Selain gangguan fisik, trauma psikologis yang mendalam juga menjadi alasan utama mengapa keduanya membutuhkan penanganan spesifik dari tim ahli di Jakarta.
Guna memastikan kontinuitas perawatan berjalan optimal, tim dokter dari Sumatra Utara yang menangani korban sejak awal turut mendampingi kedua pasien selama masa perawatan di Jakarta. Langkah kolaboratif ini diharapkan dapat mempermudah proses pemulihan, mengingat tim medis daerah adalah pihak yang paling memahami rekam medis awal kedua korban sejak insiden terjadi.
Sebagai informasi, tragedi ini bermula ketika 353 pelajar di Kabupaten Karo mengalami gejala keracunan massal setelah menyantap paket program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah mereka pada Agustus lalu. Sebagian besar korban kini telah dinyatakan pulih, namun kondisi Febiona dan Agnesia yang memerlukan penanganan khusus memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.
Melalui penanganan terpadu ini, pemerintah berkomitmen tidak hanya memulihkan kesehatan fisik kedua korban hingga tuntas, tetapi juga memprioritaskan pemulihan kesehatan mental serta trauma psikis yang mereka alami akibat peristiwa nahas tersebut.

