Di tengah pusaran era disrupsi digital yang kian cepat, peran seorang juru bicara (jubir) kini mengalami pergeseran paradigma yang cukup masif. Jubir tak lagi sekadar menjadi ‘corong’ atau penyambung lidah organisasi, melainkan penasihat strategis yang mampu menciptakan dampak nyata bagi publik maupun institusi yang diwakilinya.
Perspektif baru ini mengemuka dalam diskusi bedah buku berjudul “JURU BICARA Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi” karya Benny Siga Butarbutar dan Marlinda Irwanti Poernomo di Jakarta. Buku ini menyoroti bagaimana seni berkomunikasi politik harus dikelola secara profesional demi menjaga reputasi di tengah banjir informasi.
Pakar Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, menekankan pentingnya kedekatan emosional antara juru bicara dengan pimpinan lembaga. Menurutnya, tanpa adanya ikatan emosional dan akses langsung, pesan yang disampaikan akan terasa hambar. Kendati demikian, ia mengingatkan agar ego pribadi sang jubir tidak boleh mengalahkan karakter instansi yang diwakilinya.
Senada dengan hal itu, jurnalis senior Paulus Tri Agung Kristanto menyoroti bahwa dimensi kerja seorang jubir berada pada level etis yang mendalam. Berbeda dari hubungan masyarakat (humas) biasa, jubir harus memiliki kedekatan rasa (roso) dan integritas moral yang tinggi dalam mengomunikasikan kebijakan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menambahkan bahwa aspek empati adalah kunci utama. Menyampaikan data saja tidak cukup tanpa memahami kebatinan masyarakat. Di sisi lain, Ketua Umum PERHUMAS, Boy Kelana Soebroto, menegaskan bahwa komunikator modern dituntut memahami lanskap makro ekonomi, risiko reputasi, hingga konteks bisnis global agar bisa memosisikan diri sebagai penasihat strategis (strategic advisor).
Melalui buku panduan ini, Benny Siga Butarbutar dan Marlinda Irwanti Poernomo berharap para praktisi komunikasi di sektor publik maupun privat dapat meningkatkan standar kompetensi mereka. Buku ini diharapkan menjadi referensi krusial bagi siapa saja yang ingin menguasai seni berkomunikasi yang persuasif, empatik, dan berdampak luas di era digital.

