Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus memprihatinkan terkait keterlibatan anak-anak di bawah umur dalam aksi demonstrasi berujung ricuh di Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, pada 27 Agustus lalu. Tiga orang tersangka yang masing-masing berinisial B, N, dan P telah diringkus oleh aparat kepolisian atas dugaan kuat melakukan eksploitasi anak secara ekonomi untuk kepentingan aksi unjuk rasa tersebut.
Direktur PPA dan PPO Polda Metro Jaya, Kombes Rita Wulandari Wibowo, mengungkapkan bahwa modus operandi yang dijalankan para tersangka adalah dengan memprovokasi dan mengiming-imingi puluhan anak dengan sejumlah uang agar mau ikut serta turun ke jalan. Berdasarkan bukti yang dikumpulkan penyidik, para pelaku menargetkan anak-anak yang rentan untuk dijadikan tameng dalam kericuhan tersebut dengan bayaran yang sangat minim.
Secara terperinci, tersangka B (atau F) diketahui berhasil merekrut 53 anak. Sementara itu, tersangka N mengumpulkan 22 anak dengan rencana pemberian uang masing-masing sebesar Rp50.000. Tersangka terakhir, P, berhasil menggaet 8 anak dengan iming-imingi uang senilai Rp40.000 per anak. Tindakan manipulatif ini sangat disayangkan karena mengeksploitasi kepolosan anak-anak demi keuntungan pribadi para pelaku.
Penyelidikan kepolisian juga mengungkap bahwa ketiga tersangka memperoleh keuntungan finansial dari aksi perekrutan massal ini. Tersangka B tercatat mengantongi keuntungan hingga Rp2.350.000, disusul tersangka N sebesar Rp842.500, dan tersangka P sebesar Rp250.000. Polisi menduga ada aliran dana atau transaksi lain yang lebih besar di balik aksi ini.
Pihak Polda Metro Jaya menegaskan berkomitmen penuh untuk mengusut tuntas dalang di balik eksploitasi anak dalam aksi unjuk rasa. Kombes Rita menyebutkan bahwa penyidik masih melakukan pendalaman terhadap bukti transaksi keuangan lainnya guna mengungkap jaringan yang lebih luas. Kasus ini menjadi alarm keras bagi para orang tua dan pihak terkait untuk lebih memperketat pengawasan terhadap aktivitas anak-anak agar tidak mudah terhasut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

