Aksi kekerasan bersenjata kembali mencoreng kedamaian di tanah Papua. Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) Republik Indonesia memberikan kecaman keras atas insiden penembakan yang merenggut nyawa tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Tindakan brutal yang diduga kuat dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) ini dinilai sebagai bentuk pelanggaran HAM berat terhadap warga sipil yang sedang menjalankan tugas pelayanan publik.
Juru Bicara KemenHAM RI, Thomas Harming Suwarta, menegaskan bahwa aksi pembunuhan ini sangat tidak manusiawi dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Para korban diketahui tengah mengemban misi kemanusiaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. KemenHAM mendesak agar aparat penegak hukum segera mengusut tuntas peristiwa kekerasan ini dan menindak tegas para pelakunya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Merespons narasi yang beredar dari pihak KKB mengenai dugaan bahwa para korban merupakan bagian dari jaringan intelijen, KemenHAM menegaskan bahwa klaim tersebut tidak bisa menjadi pembenar atas tindakan keji tersebut. Thomas menekankan bahwa fokus utama adalah perlindungan warga sipil yang sedang mencari nafkah dan mengabdi untuk masyarakat. Keselamatan warga sipil harus senantiasa berada di atas segala bentuk konflik bersenjata.
Tragedi berdarah ini bermula ketika rombongan petugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya sedang dalam perjalanan kembali menuju Kota Wamena. Sebelumnya, mereka baru saja menyelesaikan pendistribusian bantuan pangan berupa ternak babi kepada masyarakat di Kampung Kimbim, Distrik Asologaima. Namun, saat berada di wilayah Distrik Muliama—sekitar 20 kilometer dari Wamena—kendaraan mereka diadang dan diberondong tembakan oleh kelompok bersenjata yang diduga dari KKB Kodap III Ndugam.
Insiden penembakan mendadak tersebut mengakibatkan tiga orang ASN gugur di tempat, yaitu Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Willi Mbuik. Jenazah Willi Mbuik dijadwalkan dipulangkan ke kampung halamannya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, guna dimakamkan oleh pihak keluarga. Duka mendalam menyelimuti jajaran pemerintah daerah dan keluarga korban yang ditinggalkan.
Saat ini, tim gabungan penegak hukum yang dipimpin Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Pol Faizal Ramadhani, masih terus melakukan penyelidikan mendalam guna mengidentifikasi serta mengejar para pelaku pengadangan tersebut. KemenHAM mengimbau seluruh lapisan masyarakat di Papua untuk tetap tenang, menahan diri, dan tidak terprovokasi agar situasi keamanan tetap kondusif sambil menyerahkan sepenuhnya proses penegakan hukum kepada pihak berwenang.

