Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat kembali menerpa kawasan konservasi vital Indonesia. Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang terletak di Provinsi Kalimantan Tengah kini menghadapi ancaman serius setelah kobaran api melahap sedikitnya 3.105 hektare lahan gambut. Peristiwa ini memicu kekhawatiran global lantaran kawasan tersebut merupakan episentrum konservasi dan habitat alami bagi spesies dilindungi, Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Hingga saat ini, kobaran api dilaporkan terpecah di sejumlah titik strategis. Data dari Balai TNTP mencatat tiga resor utama terdampak cukup parah, yakni Resor Sungai Cabang seluas 1.113 hektare, Resor Teluk Pulai seluas 1.062 hektare di Kabupaten Kotawaringin Barat, serta Resor Sungai Perlu di Kabupaten Seruyan yang mencakup luasan 929 hektare.
Kepala Balai TNTP, Yohan Hendratmoko, mengungkapkan bahwa puluhan petugas gabungan terus berjibaku memadamkan titik api di lapangan. Meski begitu, proses pemadaman dihadapkan pada medan yang sangat berat. Karakteristik lahan gambut dengan kedalaman 0,5 hingga 4 meter menjadi rintangan terbesar, sebab api kerap menjalar di bawah permukaan tanah dan sulit dideteksi secara kasat mata.
“Tantangan di lokasi sangat kompleks, mulai dari keterbatasan akses jalan, minimnya jumlah personel, hingga keterbatasan sarana prasarana pemadaman. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan dukungan operasi water bombing melalui udara agar penanganan bisa lebih terakselerasi,” jelas Yohan.
Senada dengan pihak balai, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat turut menegaskan pentingnya prioritas penanganan karhutla di kawasan bernilai konservasi tinggi. Bupati Kobar, Nurhidayah, menyampaikan bahwa TNTP serta kawasan Hutan Danau Masorain bukan sekadar hutan biasa, melainkan pusat riset dan suaka penyelamatan satwa langka.
Upaya pemadaman kini terus diintensifkan guna mencegah api meluas ke kantong-kantong populasi satwa liar lainnya. Penyelamatan ekosistem Tanjung Puting menjadi krusial, mengingat kepunahan keanekaragaman hayati dan kerusakan gambut tropis akan berdampak langsung pada keseimbangan iklim dan kelangsungan hidup satwa endemik Indonesia.

