Kontroversi seputar sound horeg kembali menyita perhatian publik. Kali ini, pemilik penyedia sound system raksasa Aeromax asal Karanganyar, Setyo Budi Mularso, menjadi pusat perbincangan hangat setelah melontarkan pernyataan tidak sopan terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur saat mengisi siaran langsung di salah satu stasiun televisi swasta.
Tindakan emosional Budi tersebut berbuntut panjang. Tak hanya menuai kecaman dari netizen dan masyarakat luas, ia juga menghadapi ‘sanksi domestik’ yang cukup berat. Budi mengaku mendapat teguran bertubi-tubi dari anak dan istrinya sendiri di rumah. Sang istri bahkan mencecarnya secara intensif selama 24 jam penuh guna mengingatkan pentingnya bertutur kata dengan bijak serta menjaga etika di ruang publik.
Nasihat mendalam dari keluarga tercinta tersebut rupanya menjadi titik balik bagi Budi. Menyadari dampak buruk dari ucapan spontannya, bos Aeromax ini mengambil langkah cepat dengan menyampaikan permohonan maaf secara tulus kepada jajaran MUI, mulai dari tingkat Karanganyar, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga MUI Pusat.
Dalam pengakuannya, Budi menegaskan bahwa umpatan tersebut merupakan murni bentuk kekhilafan pribadi yang sangat disesalinya. Sebagai wujud keseriusan atas ikrar penyesalannya, ia bahkan mengambil keputusan drastis untuk berhenti total dari garapan sound horeg—praktek sound system berdaya tinggi yang kerap memicu perdebatan terkait gangguan kenyamanan warga.
Ia memutuskan untuk mengalihkan operasional usahanya kembali ke jalur produksi konser musik profesional dengan pengaturan sistem audio yang normal dan aman bagi pendengaran publik. Langkah ini diharapkan mampu memulihkan nama baik usaha serta menciptakan ketenangan di tengah masyarakat.
Langkah ksatria Budi dalam mengakui kesalahan mendapat respons menyejukkan dari tokoh agama. Ketua MUI Karanganyar, KH Badaruddin, menyatakan telah memaafkan kekhilafan Budi secara terbuka. Ia mengapresiasi iktikad baik pengusaha audio tersebut dan mengingatkan pentingnya saling menjaga lisan serta kerukunan sosial agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.

