Site icon Media KotaKita

Alasan Unik Presiden Prabowo Subianto Lebih Suka Pidato Tanpa Teks

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali mencuri perhatian publik lewat gaya komunikasinya yang unik dan blak-blakan. Dalam acara puncak peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, Jakarta, Prabowo secara terbuka menceritakan bagaimana dirinya kerap ‘membangkang’ dari arahan staf kepresidenan yang memintanya untuk selalu berpidato menggunakan teks.

Prabowo mengakui bahwa para penasihat dan stafnya selalu mengingatkan agar ia tetap berpegang pada draf yang telah disusun rapi. Pembatasan ini bertujuan untuk menghindari kesalahan ucap yang berpotensi memicu kontroversi di kalangan publik. Meski mengapresiasi kerja keras stafnya yang menyusun materi lengkap dengan infografis dan data yang sangat baik, Prabowo merasa pendekatan tersebut kurang natural.

“Paparannya baik sekali, grafiknya banyak sekali,” seloroh Prabowo sambil menunjukkan lembaran naskah pidato kepada para hadirin. Namun, alih-alih membacakannya kata demi kata, ia lebih memilih untuk menangkap esensi pesan materi tersebut lalu menyampaikannya secara spontan. Menurutnya, membaca teks secara kaku justru berisiko membuat dirinya dan audiens mengantuk di lokasi.

Bagi Prabowo, jika dalam penyampaian spontan tersebut ia melakukan kesalahan, langkah terbaik adalah meminta maaf secara jantan kepada publik. Gaya komunikasi tanpa teks ini memang telah lama menjadi ciri khasnya, seperti yang pernah ia tunjukkan pula dalam perayaan hari lahir PKB beberapa waktu lalu.

Namun, gaya pidato off-script ini tidak jarang menjadi pisau bermata dua. Sepanjang tahun ini, beberapa pernyataan spontan Prabowo sempat memicu polemik hangat di ruang publik. Salah satunya adalah penggunaan istilah ‘Londo Ireng’ untuk menggambarkan pihak-hari yang dinilai selalu sinis terhadap kemajuan bangsa, serta pernyataannya mengenai dugaan adanya demonstrasi bayaran.

Meskipun demikian, para pendukung dan koalisi pemerintah selalu pasang badan. Mereka menegaskan bahwa publik sebaiknya tidak terjebak pada diksi yang terlontar, melainkan fokus pada substansi dan keberpihakan Presiden Prabowo yang tulus untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Gaya pidato spontan ini justru mempertegas karakter kepemimpinannya yang apa adanya dan tidak berjarak dengan masyarakat.

Exit mobile version