Transisi menuju era kendaraan listrik (EV) rupanya tidak hanya membawa perubahan pada gaya hidup ramah lingkungan, tetapi juga menghadirkan tantangan sosial baru di ruang publik. Baru-baru ini, sebuah insiden baku hantam yang dipicu oleh rebutan antrean di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) viral di media sosial. Peristiwa menegangkan tersebut terjadi di SPKLU Samanea, kawasan Suvarna Sutera, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.
Berdasarkan rekaman video yang beredar luas, perselisihan bermula saat seorang pria berpakaian putih menghampiri pengendara lain berinisial MRA (36) yang tengah mengisi daya mobil listriknya. Terlapor mengklaim bahwa dirinya telah mengantre lebih dulu dan memaksa MRA untuk segera mencabut pengisi daya (charger) yang sedang terpasang. Situasi yang awalnya berupa adu mulut dengan cepat memanas ketika terlapor mulai melontarkan kata-kata kasar dan ancaman kekerasan.
Tidak berhenti di situ, ketegangan fisik pun tak terhindarkan. Pria tersebut sempat melayangkan beberapa pukulan ke arah korban, yang beruntung masih bisa dihindari. Keributan bahkan sempat melebar ketika terlapor diduga mencoba menampar istri MRA yang berada di lokasi kejadian. Beruntung, petugas keamanan setempat segera datang untuk melerai pertikaian sebelum situasi menjadi lebih tidak terkendali.
Kasi Humas Polresta Tangerang, Ipda Tri Leksono, membenarkan adanya laporan resmi dari korban terkait dugaan tindak pidana pemaksaan dengan kekerasan. Pihak kepolisian bergerak cepat dengan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) serta mengamankan sejumlah barang bukti penting, termasuk rekaman CCTV di sekitar area SPKLU.
Ipda Tri Leksono menegaskan bahwa penyidik akan memanggil terduga pelaku dalam waktu dekat guna meminta keterangan lebih lanjut. Kasus ini menjadi alarm penting bagi para pengguna kendaraan listrik mengenai pentingnya etika mengantre di fasilitas umum. Seiring meningkatnya populasi mobil listrik, penyediaan infrastruktur yang memadai serta kesadaran sosial pengguna menjadi kunci utama untuk mencegah konflik serupa terjadi kembali di masa mendatang.

