Sebuah tragedi memilukan kembali terjadi di jalan bebas hambatan Ibu Kota, menyoroti betapa fatalnya dampak kelelahan saat berkendara. Kecelakaan maut yang melibatkan satu unit truk tronton jenis wing box terjadi di KM 20.200A Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Utara, pada Rabu malam sekitar pukul 23.40 WIB. Insiden tragis ini merenggut nyawa tiga orang pekerja pemeliharaan jalan tol yang tengah mengemban tugas di malam hari.
Berdasarkan laporan kepolisian, peristiwa nahas ini bermula ketika truk tronton tersebut melaju di lajur satu dari arah Tanjung Priok menuju Pluit. Situasi yang awalnya landai seketika berubah mencekam saat pengemudi truk diduga kehilangan kesadaran sesaat akibat serangan kantuk hebat atau yang dikenal dengan istilah microsleep.
Kendaraan besar yang kehilangan kendali itu langsung menerobos traffic cone pengaman proyek. Truk kemudian menghantam keras mobil operasional milik Citra Marga serta para pekerja yang sedang sibuk melakukan perawatan jalan tol di lokasi tersebut.
Kasat PJR Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Rieki Indra Brata Manggala, membenarkan kejadian tersebut dan merinci korban yang jatuh dalam peristiwa ini. Benturan yang sangat keras menyebabkan dua pekerja tewas seketika di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit.
“Korban atas nama Suroto, petugas pengawas beton dan pemeliharaan, serta Yunus meninggal dunia di lokasi kejadian. Sedangkan Baharudin meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke Rumah Sakit Koja,” ungkap Rieki saat memberikan keterangan resmi.
Selain merenggut tiga nyawa, kecelakaan fatal ini juga menyebabkan dua orang lainnya mengalami luka-luka serius dan kini tengah mendapatkan perawatan medis. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap fakta-fakta baru seputar kelalaian dalam berkendara ini.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya aspek keselamatan berkendara di jalan tol, terutama mengenai bahaya microsleep bagi pengemudi jarak jauh. Kelelahan ekstrem yang dipaksakan untuk terus mengemudi terbukti sering kali berujung pada petaka yang merugikan banyak pihak.

