Site icon Media KotaKita

Menjamin Masa Depan Atlet: Yenny Wahid Dorong Skema Dana Pensiun dan Literasi Keuangan

Masa kejayaan seorang atlet profesional kerap kali terbilang singkat. Menyadari tantangan tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (PB FPTI), Yenny Wahid, menyuarakan dukungannya terhadap pembentukan skema dana pensiun atlet. Langkah strategis ini dinilai sangat krusial guna memberikan jaminan kesejahteraan jangka panjang bagi para pahlawan olahraga nasional setelah melewati usia produktif mereka.

Saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Yenny menegaskan bahwa karier seorang atlet umumnya mengalami penurunan performa signifikan saat menginjak usia di atas 35 tahun. Oleh karena itu, persiapan finansial yang matang harus dilakukan sejak masa keemasan. PB FPTI sendiri telah mengambil langkah awal dengan membekali para atlet panjat tebing lewat program literasi keuangan, sehingga mereka mampu mengelola bonus dan hadiah pertandingan secara bijak.

Menurut Yenny, penyiapan peta jalan (roadmap) finansial sangat esensial agar stabilitas ekonomi atlet tetap terjaga meski sudah gantung sepatu. Pengelolaan penghasilan tersebut tidak hanya terbatas pada tabungan biasa, melainkan juga mencakup investasi strategis, pemilikan aset instrumen jangka panjang, hingga keikutsertaan dalam skema jaminan hari tua.

Dalam pandangannya, skema dana pensiun idealnya melibatkan peran aktif negara, khususnya bagi atlet yang memperoleh gaji langsung dari dinas instansi pemerintah. Namun, bagi atlet secara umum, kesadaran mandiri dalam merencanakan keuangan juga harus terus ditingkatkan agar masa depan mereka tidak terbengkalai.

Selain opsi finansial, Yenny juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang memberikan jalur karier pascapensiun bagi atlet berprestasi, seperti kesempatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun anggota TNI dan Polri. Dengan kepastian karier dan jaminan masa depan ini, para atlet dapat memfokuskan seluruh potensi mereka untuk mengharumkan nama bangsa di panggung dunia tanpa rasa cemas.

Exit mobile version