Langkah persuasif kini diambil untuk menangani para pelajar yang terjaring dalam aksi demonstrasi pada 27 Agustus lalu. Sebanyak 27 siswa asal DKI Jakarta dikirim untuk mengikuti pembekalan program Bela Negara di Bogor, Jawa Barat. Program pembinaan ini diinisiasi oleh kolaborasi antara Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama Polda Metro Jaya.
Program bela negara ini dirancang untuk membentuk karakter dan menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda, khususnya mereka yang sempat diamankan pihak kepolisian pasca-demonstrasi. Kehadiran para pelajar dalam kegiatan ini mendapatkan apresiasi positif dari Pramono Anung. Ia menilai langkah ini sangat efektif untuk memberikan pemahaman baru bagi para siswa mengenai pentingnya menjaga kedaulatan negara.
Menurut Pramono, kegiatan ini akan membantu para pelajar untuk lebih menghargai dan menyayangi bangsa sendiri. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak terlibat langsung dalam teknis pelaksanaan program. Seluruh kurikulum dan metode pendidikan sepenuhnya berada di bawah wewenang Kementerian Pertahanan dan Polda Metro Jaya.
Secara keseluruhan, ada 151 siswa dari wilayah Jabodetabek yang mengikuti pembinaan bela negara di Bogor ini. Dari Jakarta sendiri, awalnya tercatat ada 29 siswa yang diberangkatkan, namun hanya 27 anak yang akhirnya mengikuti program hingga selesai. Menariknya, latar belakang pendidikan para peserta sangat bervariasi, mulai dari 12 siswa SMK, 7 siswa SMA, 4 siswa SMP, 4 peserta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), 1 siswa Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), hingga 1 murid sekolah dasar (SD).
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta, Nahdiana, menjelaskan bahwa para pelajar tersebut sebelumnya berada di Polda Metro Jaya setelah aksi unjuk rasa berakhir. Meski demikian, pihak sekolah dan dinas terkait belum bisa memastikan sejauh mana keterlibatan aktif masing-masing anak dalam aksi turun ke jalan tersebut. Pembinaan ini diharapkan menjadi jalan keluar edukatif agar generasi muda tidak lagi terjebak dalam aksi massa yang berisiko.

