Upaya pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda terus diintensifkan oleh tim SAR gabungan. Rombongan yang menumpangi sebuah speed boat tersebut dilaporkan hilang sejak Selasa (8/9) saat dalam perjalanan untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).
Kapolda Banten, Irjen Hengki, menyatakan bahwa operasi penyelamatan melibatkan berbagai unsur penting, mulai dari Basarnas, Polairud, Lanal, TNI, hingga BPBD. Tim terus menyisir area perairan meski dihadapkan pada tantangan cuaca dan aktivitas vulkanik gunung api tersebut. Hengki menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah melacak keberadaan para korban secepat mungkin.
Tantangan Evakuasi dan Pemantauan Udara
Hingga kini, tim gabungan masih memfokuskan pencarian melalui jalur laut. Pemantauan udara belum dapat dilakukan mengingat kondisi Gunung Anak Krakatau yang masih mengalami erupsi. Pihak kepolisian menegaskan bahwa keselamatan tim penyelamat juga menjadi prioritas utama dalam misi kemanusiaan ini.
Kapolda juga mengingatkan seluruh pihak untuk mematuhi rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Berdasarkan arahan PVMBG, masyarakat dilarang mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius aman minimal tiga kilometer guna menghindari bahaya erupsi yang sewaktu-waktu bisa meningkat.
Posko Antemortem Disiapkan Polda Banten
Sebagai langkah antisipasi dan kesiapsiagaan, Polda Banten telah mendirikan Posko Antemortem melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes). Posko ini disiapkan untuk mempermudah proses identifikasi medis lanjutan jika para korban berhasil dievakuasi nantinya.
Rombongan yang hilang kontak ini membawa lima jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional, yaitu M Bagus Khoirunnas (LKBN ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas). Mereka didampingi oleh tiga kru kapal, yakni Warta selaku kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto yang bertindak sebagai pemandu jalan.

