Upaya penyelamatan besar-besaran tengah berlangsung di Perairan Selat Sunda setelah sebuah kapal cepat (speedboat) yang mengangkut lima jurnalis nasional dilaporkan hilang kontak. Memasuki hari kedua operasi pencarian, Tim SAR Gabungan mengerahkan seluruh kekuatan dengan memperluas radius penyisiran guna menemukan total delapan korban yang berada di dalam kapal tersebut.
Misi pencarian ini dikoordinasikan secara ketat oleh Basarnas Banten dan Lampung, bekerja sama dengan unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga nelayan setempat. Guna memaksimalkan pelacakan, tim dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) berbeda. Wilayah penyisiran kini tidak hanya berpusat pada rute awal kapal, melainkan melebar hingga ke sekitar Pulau Rakata, Pulau Panjang, Pulau Legundi, Pulau Sebesi, hingga kawasan perairan aktif Gunung Anak Krakatau.
Sejumlah armada laut tangguh diterjunkan dalam operasi ini, termasuk KN SAR Tetuka 247, KAL Anyer, serta beberapa Rigid Inflatable Boat (RIB). Tak hanya mengandalkan kapal penyelamat, Tim SAR juga memanfaatkan teknologi canggih seperti drone thermal untuk mendeteksi suhu tubuh manusia dari udara, mengantisipasi jika para korban terombang-ambing di lautan.
Kronologi kejadian bermula ketika rombongan yang terdiri dari lima jurnalis, dua awak kapal, dan seorang pemandu wisata bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, bertujuan untuk peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Tak lama setelah mengirimkan koordinat terakhirnya, komunikasi dengan kapal cepat tersebut terputus sepenuhnya. Jurnalis yang berada dalam manifes tersebut berasal dari berbagai media nasional dan internasional, termasuk LKBN ANTARA, Merdeka, iNews, Anadolu, serta seorang jurnalis lepas.
Meskipun kondisi cuaca di sekitar lokasi dilaporkan cukup bersahabat dengan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter, tantangan arus bawah laut Selat Sunda tetap diwaspadai. Otoritas setempat mengimbau kepada seluruh nelayan dan kapal niaga yang melintasi kawasan tersebut untuk segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan puing kapal atau tanda darurat dari para korban.

