Site icon Media KotaKita

Kendala Cuaca Buruk, Pencarian Udara Jurnalis Hilang di Selat Sunda Masih Terhambat

Upaya pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda terus dioptimalkan oleh tim gabungan. Memasuki hari-hari krusial, kendala cuaca ekstrem dan angin kencang di kawasan tersebut masih menjadi rintangan terbesar. Kondisi ini menyebabkan operasi pencarian menggunakan helikopter atau jalur udara belum bisa dilaksanakan sepenuhnya.

Penjabat Gubernur Banten, Andra Soni, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis keselamatan dari Tim SAR Banten, situasi udara saat ini masih terlalu berisiko. Sebagai alternatif, tim penyelamat telah mencoba memaksimalkan penggunaan teknologi drone untuk memantau area perairan dari ketinggian yang aman.

“Tim SAR menyampaikan bahwa kondisi saat ini belum memungkinkan untuk mengerahkan fasilitas udara. Namun, kami sudah mengupayakan pemantauan dengan drone,” ujar Andra Soni saat memberikan keterangan di Pandeglang, Banten.

Andra menambahkan, strategi pencarian akan lebih difokuskan dan dimaksimalkan pada pagi hari. Keputusan ini diambil setelah melakukan evaluasi ketat selama dua hari terakhir. Pagi hari dinilai memberikan waktu operasional yang lebih panjang serta kondisi visibilitas dan gelombang laut yang relatif lebih bersahabat untuk menyisir wilayah Selat Sunda.

Di sisi lain, desakan emosional datang dari pihak keluarga korban yang sangat berharap pencarian udara segera direalisasikan. Desi, istri dari pewarta foto LKBN ANTARA, M. Bagus Khoirunnas, secara langsung memohon kepada Gubernur Banten agar mengerahkan segala daya upaya, termasuk armada udara, demi menemukan sang suami beserta rekan-rekannya.

Selain M. Bagus Khoirunnas, empat jurnalis lain yang berada dalam rombongan tersebut adalah Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (pewarta lepas). Mereka bersama tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak sejak Senin sore saat melakukan perjalanan menggunakan speedboat untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Untuk mempercepat proses penyisiran, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kini telah mengerahkan tiga kapal perang guna menyusuri titik-tidik koordinat potensial. Sinergi antara TNI AL, Basarnas, dan seluruh pihak terkait diharapkan dapat segera membawa kabar baik di tengah ketidakpastian yang menyelimuti keluarga korban.

Exit mobile version