Site icon Media KotaKita

Erupsi Gunung Ili Lewotolok NTT: Lahar Dingin dan Batu Vulkanik Mengancam Pemukiman

Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali meningkat signifikan dan memicu kekhawatiran warga sekitar. Pada Senin (8/9), gunung api aktif ini dilaporkan meluncurkan material berbahaya berupa batu vulkanik dan aliran lahar dingin yang mulai mendekati area pemukiman warga di kaki gunung.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi bahwa gunung tersebut mengalami dua kali letusan beruntun pada hari Senin. Salah satu erupsi terbesar tercatat terjadi pada pukul 05.03 WITA. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu tebal berwarna kelabu yang membubung setinggi kurang lebih 500 meter di atas puncak kawah.

Dampak dari erupsi ini sangat dirasakan oleh warga yang tinggal di desa-desa sekitar lereng gunung. Guguran batu vulkanik berukuran besar serta ancaman lahar dingin akibat curah hujan menjadi ancaman nyata yang kian mendekati pekarangan rumah warga. Kondisi ini membuat situasi di sekitar kaki Gunung Ili Lewotolok menjadi sangat dinamis dan memerlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh pihak terkait.

Sebagai langkah antisipasi untuk menghindari jatuhnya korban jiwa, PVMBG langsung mengeluarkan rekomendasi ketat bagi masyarakat setempat maupun para wisatawan. Warga dilarang keras melakukan aktivitas apa pun dalam radius bahaya sejauh 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah Gunung Ili Lewotolok. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk selalu mengenakan masker guna melindungi saluran pernapasan dari bahaya paparan abu vulkanik yang sangat halus.

Lahar dingin sendiri merupakan ancaman sekunder yang sangat mematikan, terutama jika wilayah puncak diguyur hujan deras. Campuran air, lumpur abu, dan bebatuan dapat mengalir deras melalui sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung dan meluap ke kawasan pemukiman dalam waktu singkat.

Gunung Ili Lewotolok merupakan satu dari sekitar 130 gunung berapi aktif yang tersebar di sepanjang wilayah Indonesia. Berada di dalam jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), wilayah ini memiliki kerawanan tinggi terhadap aktivitas seismik dan vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Pemerintah daerah bersama pihak berwenang terus bersiaga untuk memitigasi dampak bencana yang lebih luas.

Exit mobile version