Site icon Media KotaKita

Desakan DPR: Badan Gizi Nasional Harus Tanggung Biaya Siswi Hilang Ingatan Akibat MBG

Kasus keracunan makanan yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kini tengah menyita perhatian publik dan otoritas tertinggi. Seorang siswi bernama Febiona Purba (16) dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga kesulitan berbicara setelah mengonsumsi hidangan tersebut. Kondisi ini memicu reaksi keras dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang mendesak tindakan cepat dari pemerintah.

Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, menegaskan bahwa insiden ini telah masuk dalam tahap yang sangat memprihatinkan. Saan meminta Badan Gizi Nasional (BGN) tidak tinggal diam dan segera mengambil tanggung jawab penuh, khususnya terkait seluruh biaya perawatan medis korban yang saat ini masih berjuang untuk pulih di rumah sakit.

Saan menilai, efek keracunan yang berdampak pada fungsi kognitif seperti hilang ingatan dikategorikan sebagai kasus kronis yang berisiko tinggi. “Kami meminta agar ditangani secara serius. Pembiayaan untuk pemulihan kesehatan anak tersebut perlu ditanggung secara sungguh-sungguh oleh pihak terkait,” ujar politisi Partai NasDem tersebut.

Kronologi kejadian bermula pada 13 Agustus lalu, saat Febiona, siswi kelas XI SMK Bersama Berastagi, mengonsumsi makanan dari program MBG di sekolahnya. Setelah mengalami gejala keracunan, kondisinya justru memburuk hingga memengaruhi daya ingat dan kemampuan bicaranya. Korban kini tengah menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H Adam Malik, Medan, setelah sebelumnya sempat berpindah-pindah rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Hingga saat ini, tim medis RSUP H Adam Malik masih melakukan pemeriksaan mendalam. Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, menjelaskan bahwa pihak rumah sakit belum bisa memberikan diagnosis pasti mengenai penyebab utama gangguan saraf yang dialami korban karena proses medis masih terus berjalan.

Di sisi lain, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan kesehatan Febiona. Pemerintah daerah masih menunggu hasil observasi klinis untuk memastikan apakah gangguan tersebut murni disebabkan oleh keracunan makanan yang menyerang sistem saraf atau ada faktor medis lainnya. Langkah evaluasi menyeluruh terhadap standarisasi program MBG kini menjadi desakan utama demi menjamin keselamatan siswa di masa mendatang.

Exit mobile version