Geliat ekonomi global yang dipenuhi ketidakpastian tidak menyurutkan optimisme terhadap masa depan perekonomian Indonesia. Pada tahun 2026, ekonomi nasional diproyeksikan tetap tumbuh kokoh di angka 5,2 persen secara tahunan (year-on-year). Penggerak utama dari ketangguhan ini adalah solidnya aktivitas domestik, belanja pemerintah, serta derasnya arus investasi di berbagai sektor strategis.
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, mengungkapkan bahwa investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) terus mengalir deras ke tanah air. Sektor-sektor masa depan seperti hilirisasi industri logam, ekonomi digital, serta pembangunan pusat data (data center) kini menjadi motor baru penopang pertumbuhan jangka panjang. Sektor-sektor ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional.
Kendati demikian, Indonesia tidak boleh lengah terhadap sejumlah risiko eksternal. Irman mengingatkan adanya potensi pelebaran defisit transaksi berjalan yang dipicu oleh tingginya impor energi dan melambatnya performa ekonomi negara-negara mitra dagang utama. Selain itu, fluktuasi pasar keuangan global dan perubahan arah kebijakan moneter dari negara-negara maju dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar Rupiah.
Guna mengantisipasi gejolak tersebut, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat benteng pertahanan domestik dengan memperdalam pasar valuta asing. Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Yansen Lokanata, menjelaskan langkah strategis BI melalui implementasi transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) serta kebijakan Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).
Langkah VASTRA ini dirancang untuk mempermudah investor asing melakukan lindung nilai (hedging) di pasar domestik, sekaligus menjaga stabilitas Rupiah agar tetap likuid dan berdaya tahan tinggi. Melalui kolaborasi kebijakan moneter yang adaptif dan fokus pada hilirisasi digital, perekonomian Indonesia optimis mampu melewati dinamika global dengan kepala tegak.

