Kebakaran hebat yang melanda pabrik plastik milik PT Technoplastika Prima Perdana di Desa Sentul Jaya, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya meski telah berkobar selama lebih dari 48 jam. Peristiwa yang bermula sejak Minggu siang ini tidak hanya menghanguskan fasilitas produksi, tetapi juga memaksa puluhan warga sekitar untuk mengungsi demi keselamatan mereka.
Berdasarkan informasi terbaru, kepulan asap tebal dan kobaran api yang fluktuatif masih menyelimuti area pabrik. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, menjelaskan bahwa tim pemadam kebakaran terus berjibaku di lapangan. Saat ini, sebanyak 35 personel dengan kekuatan armada tujuh unit mobil pemadam kebakaran disiagakan di lokasi untuk melokalisasi titik api agar tidak merembet lebih jauh.
Upaya pemadaman ini menghadapi tantangan yang sangat berat. Banyaknya material berbahan dasar plastik di dalam pabrik membuat api sangat cepat membesar kembali meskipun sempat mereda. Karakteristik bahan kimia plastik yang mudah terbakar inilah yang menjadi kendala utama petugas dalam melakukan proses pendinginan area (cooling down).
Dampak dari bencana ini sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Sebanyak 33 kepala keluarga (KK) terpaksa diungsikan sementara waktu guna menghindari paparan asap beracun yang membahayakan kesehatan pernapasan. Selain ancaman polusi udara, kerusakan fisik juga menimpa pemukiman warga. Dilaporkan satu unit rumah warga mengalami kerusakan cukup parah akibat tertimpa reruntuhan dinding bangunan pabrik yang roboh akibat suhu ekstrem kebakaran.
BPBD Kabupaten Tangerang memperkirakan kerugian materiil akibat bencana kebakaran hebat ini mencapai angka yang fantastis, yaitu sekitar Rp10 miliar. Kendati demikian, pihak berwenang tetap optimis bahwa situasi akan segera terkendali sepenuhnya dalam waktu dekat, mengingat intensitas api yang dilaporkan sudah mulai mengalami penurunan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Pihak BPBD juga mengimbau warga yang masih bertahan di sekitar lokasi untuk tetap waspada dan selalu menggunakan masker pelindung medis guna meminimalkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Langkah penanganan medis darurat serta bantuan logistik bagi para pengungsi kini mulai disalurkan oleh pemerintah daerah setempat untuk meringankan beban warga terdampak.

