Aktivitas vulkanik di Selat Sunda kembali meningkat seiring dengan terjadinya rentetan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Gunung api aktif ini dilaporkan mengalami tiga kali letusan beruntun sejak dini hari hingga pagi hari pada Selasa (8/9). Meskipun secara visual letusan tidak teramati akibat tertutup kabut atau faktor cuaca, instrumen pendeteksi gempa mencatat adanya aktivitas seismik yang signifikan dari gunung tersebut.
Berdasarkan data resmi dari aplikasi Magma Kementerian ESDM, rangkaian erupsi ini dimulai sejak subuh. Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum mencapai 47 mm dan durasi gempa letusan selama 15 detik. Selang waktu sekitar setengah jam kemudian, tepatnya pukul 05.34 WIB, letusan kedua kembali terekam dengan amplitudo 44 mm berdurasi 10 detik.
Tidak berhenti di situ, aktivitas magma di dalam perut bumi kembali memicu erupsi ketiga yang terjadi pada pukul 07.49 WIB. Pada letusan terakhir di pagi hari tersebut, seismograf mencatat kekuatan gempa letusan dengan amplitudo maksimum yang lebih besar, yakni 48 mm, dengan durasi embusan mencapai 19 detik. Seluruh rangkaian peristiwa vulkanik ini dilaporkan langsung oleh petugas pos pengamatan gunung api setempat.
Sebelum rentetan letusan ini terjadi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sempat mencatat adanya jeda aktivitas vulkanik. Erupsi menerus yang terjadi sebelumnya sempat terhenti sementara pada Minggu (6/9) dini hari. Namun, ketenangan tersebut rupanya tidak berlangsung lama karena potensi akumulasi gas dan energi di dalam tubuh gunung masih tergolong sangat tinggi.
Menanggapi kondisi ini, Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih dipertahankan pada Level III (Siaga). Pihak berwenang mengimbau masyarakat, wisatawan, serta nelayan untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius aman guna mengantisipasi lontaran material pijar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

