Site icon Media KotaKita

Dampak El Nino Kuat, Musim Hujan di NTB Diprediksi Mundur hingga Desember

Lombok Barat – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mengalami kemunduran signifikan hingga Desember. Fenomena kemarau panjang ini diperkirakan bakal menyelimuti Bumi Gora hingga akhir November mendatang akibat kuatnya pengaruh El Nino.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan bahwa potensi hujan dalam beberapa dasarian ke depan terpantau sangat minim. Kondisi ini memicu perluasan wilayah terdampak kekeringan meteorologis di hampir seluruh kabupaten dan kota di NTB.

“Kekeringan ekstrem kian meluas di NTB. Kami merilis peringatan dini untuk satu dasarian ke depan, dan ada potensi kuat cakupan wilayah terdampak akan terus bertambah karena curah hujan yang sangat rendah,” ungkap Suci saat ditemui di Lombok Barat.

Berdasarkan data terkini BMKG, indeks El Nino kini berada pada kategori sangat kuat, yakni mencapai angka 2,74. Angka indeks yang tinggi ini diprediksi bertahan hingga penghujung tahun, sebelum akhirnya perlahan melemah ke kategori moderat pada awal tahun berikutnya.

Dampak nyata dari fenomena global ini adalah melonjaknya status kedaruratan di NTB. Saat ini, sembilan dari sepuluh kabupaten/kota di provinsi tersebut telah ditetapkan dalam status Awas Kekeringan. Salah satu wilayah yang mengalami dampak terparah adalah Kecamatan Gangga di Kabupaten Lombok Utara.

Lebih memprihatinkan lagi, catatan Hari Tanpa Hujan (HTH) di beberapa titik telah melewati ambang batas ekstrem. Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima, misalnya, mencatat rekor tanpa hujan berturut-turut hingga 105 hari. Secara umum, sebagian besar wilayah NTB mengalami HTH dengan durasi berkisar antara 31 hingga lebih dari 60 hari.

Menyikapi krisis air bersih yang membayangi, BMKG mengimbau keras agar masyarakat mulai melakukan langkah-langkah mitigasi mandiri. Penghematan penggunaan air bersih secara bijaksana menjadi kunci utama dalam bertahan menghadapi musim kemarau ekstrem yang berlangsung lebih lama dari biasanya ini.

Exit mobile version