Pemerintah meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring dengan belum berakhirnya ancaman fenomena iklim ekstrem. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini belum mencapai puncak dari siklus El Nino. Kondisi cuaca panas ekstrem dan kekeringan panjang ini diprediksi masih akan terus merangkak naik dan belum diketahui secara pasti kapan akan mereda.
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Djamari menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Langkah-langkah strategis dan penegakan hukum di lapangan terus diintensifkan. Pemerintah menaruh perhatian khusus pada maraknya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Menurutnya, investigasi di lapangan menunjukkan adanya unsur kelalaian hingga tindakan sengaja oleh oknum tertentu yang memicu titik api.
“Kami menemukan adanya tindakan ilegal yang menyebabkan kebakaran ini terjadi, baik karena faktor kesengajaan maupun kelalaian fatal. Hukum akan ditegakkan secara tegas tanpa pandang bulu,” ujar Djamari setelah melangsungkan rapat koordinasi di Mako Marinir, Jakarta.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Kepala BNPB, Suharyanto, memaparkan data terbaru mengenai luasan dampak kebakaran hutan. Hingga awal September, total lahan gambut yang hangus terbakar di enam provinsi rawan—termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi—telah mencapai 72.008 hektare.
Kendati demikian, upaya pemadaman yang dilakukan tim gabungan di lapangan menunjukkan hasil yang signifikan. Dari total lahan yang terbakar, petugas berhasil menjinakkan api di area seluas 71.274,29 hektare. Saat ini, upaya pemadaman intensif masih difokuskan pada sisa lahan terbakar seluas 734,81 hektare yang tersebar di beberapa titik hotspot.
Dengan potensi El Nino yang masih terus menguat, kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan dampak buruk bencana kabut asap dan kerusakan lingkungan yang lebih masif.

