MAROS — Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Bulu Saukang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Minggu malam. Kobaran api yang membumbung di area dataran tinggi tersebut sempat mengancam keselamatan ratusan pendaki yang sedang menghabiskan waktu akhir pekan di pegunungan tersebut.
Berdasarkan data resmi posko pemantauan, tercatat sebanyak 337 pendaki terdaftar berada di area Gunung Saukang saat insiden terjadi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 68 pendaki sempat terjebak di area atas bukit akibat kobaran api yang cepat menjalar. Api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 20.00 WITA di sekitar Pos 5, sebelum akhirnya merembet hingga ke jalur umum Pos 3 dan mendekati kawasan puncak.
Evakuasi Cepat oleh Tim Gabungan
Mendapat laporan darurat, tim gabungan yang terdiri dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Maros, Basarnas Makassar, Manggala Agni, TNI-Polri, serta relawan SAR lokal langsung bergerak cepat menuju lokasi. Proses evakuasi dilakukan secara intensif dengan memprioritaskan keselamatan para pendaki yang berada di titik-titik rawan, termasuk area Bukit Alvath.
Kasi Sarpras dan Informasi Damkarmat Maros, M. Ilham Halim Syah, mengonfirmasi bahwa seluruh pendaki yang sempat terjebak berhasil dievakuasi turun ke posko utama dalam keadaan selamat. Pengelola jalur pendakian juga melakukan pencocokan kartu registrasi secara ketat untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di atas gunung.
Kendati berhasil diselamatkan, tiga pendaki perempuan membutuhkan perawatan medis darurat dari tim medis Puskesmas Tompobulu. Dua di antaranya mengalami keluhan sesak napas akibat terpapar asap tebal, sementara satu pendaki lainnya mengalami cedera pergelangan kaki saat proses evakuasi turun dari bukit.
Tantangan Pemadaman Api di Medan Terjal
Proses pemadaman api menghadapi tantangan geografis yang cukup berat. Meskipun armada pemadam telah dikerahkan ke lokasi, kendaraan operasional hanya mampu menjangkau area kaki bukit. Alhasil, puluhan personel gabungan harus mendaki dan menjangkau titik api secara manual menggunakan peralatan portabel seperti pompa punggung (jet shooter).
Petugas gabungan hingga kini masih terus bersiaga dan melakukan pemantauan ketat di kawasan Gunung Saukang untuk mengantisipasi potensi munculnya titik api baru. Sementara itu, total luas area hutan yang terdampak kebakaran masih dalam proses pendataan oleh pihak berwenang.

