Militer Indonesia bersiap mencetak sejarah baru di kancah maritim global. Pemerintah Indonesia mengonfirmasi segera mengoperasikan kapal induk pertamanya yang diberi nama KRI Gajah Mada. Kapal tangguh yang diakuisisi dari Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, ini akan dialihfungsikan menjadi pangkalan terapung untuk helikopter dan pesawat nirawak (drone).
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa keputusan ini merupakan langkah strategis, tidak hanya untuk memperkuat pertahanan nasional tetapi juga untuk mempercepat mitigasi bencana alam. Dalam rapat terbatas penanganan bencana baru-baru ini, Prabowo menjelaskan bahwa kapal induk tersebut nantinya dapat menampung hingga sepuluh unit helikopter kelas menengah, seperti Black Hawk dan MI-17.
Kemampuan helikopter-helikopter ini sangat krusial, terutama karena masing-masing mampu membawa 4 hingga 5 ton air. Kehadiran KRI Gajah Mada akan mempercepat respons penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mendekatkan armada udara langsung ke titik api terdekat.
KRI Gajah Mada dijadwalkan tiba di perairan Nusantara pada pertengahan September mendatang. Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, kapal perang legendaris ini telah bertolak dari Italia dengan bendera aslinya sebelum resmi berganti nama menjadi KRI Gajah Mada setibanya di Indonesia.
Secara spesifikasi, eks-ITS Giuseppe Garibaldi ini bukanlah kapal sembarangan. Memiliki panjang mencapai 180,2 meter dengan bobot sekitar 13.800 ton, kapal ini mampu melesat hingga kecepatan 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Kapal bergeladak penuh pertama milik Italia ini juga kaya akan pengalaman tempur, setelah terlibat dalam berbagai operasi militer internasional di Somalia, Kosovo, Afghanistan, hingga Libya.
Dengan daya tampung kru mencapai ratusan prajurit tangguh dan ruang udara yang luas, transformasi kapal perang ini menjadi simbol modernisasi alutsista Indonesia yang semakin disegani di kawasan Asia Tenggara.

