Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan eskalasi yang signifikan. Berdasarkan laporan evaluasi terbaru dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), gunung api aktif legendaris ini tercatat mengalami erupsi sebanyak tiga kali dalam kurun waktu Minggu (6/9) hingga Senin (7/9). Fenomena ini menegaskan bahwa dinamika di dalam perut bumi Anak Krakatau masih sangat aktif dan membutuhkan kewaspadaan ekstra dari semua pihak.
Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menjelaskan secara rinci mengenai parameter kegempaan yang terekam selama periode pengamatan tersebut. Selain tiga kali gempa letusan atau erupsi, instrumen pemantau juga mendeteksi adanya 9 kali gempa hembusan, 93 kali gempa fase rendah (low frequency), 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta 4 kali gempa tremor menerus dan 1 kali gempa vulkanik dangkal. Manifestasi kegempaan yang cukup padat ini mengindikasikan pasokan magma baru yang masih terus bergerak ke permukaan.
Menurut Lana, tipe erupsi yang mendominasi saat ini adalah erupsi strombolian. Secara vulkanologi, karakteristik erupsi strombolian ini untuk sementara waktu diinterpretasikan sebagai fase transisi menuju akhir dari siklus letusan panjang yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir. Kendati demikian, pihak Badan Geologi menegaskan bahwa status ini tidak serta-merta menurunkan tingkat kewaspadaan, karena evaluasi mendalam masih terus berjalan setiap harinya.
Badan Geologi juga memberikan peringatan dini bahwa probabilitas terjadinya letusan susulan dalam beberapa waktu ke depan masih tergolong tinggi. Jika aktivitas vulkanik ini kembali meningkat secara menerus, potensi bahaya yang mengintai tidak main-main. Ancaman tersebut meliputi lontaran material pijar panas, hujan abu lebat yang dapat mengganggu pernapasan, hingga aliran lava pijar yang dapat merusak ekosistem sekitarnya.
Demi keselamatan bersama, pihak berwenang mengimbau dengan sangat agar masyarakat, nelayan, maupun wisatawan domestik dan mancanegara tidak mendekati kawasan rawan bencana. Area steril ditetapkan dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Langkah preventif ini dinilai mutlak guna meminimalisasi risiko korban jiwa akibat potensi awan panas dan lontaran batu pijar yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

