Krisis air akibat musim kemarau panjang kembali menghantam sektor pertanian di Jawa Timur. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk. Waduk Sumberkepuh yang selama ini menjadi urat nadi pengairan bagi ratusan hektare sawah di kawasan tersebut dilaporkan telah mengering total selama dua bulan terakhir akibat minimnya curah hujan.
Waduk yang memiliki luas mencapai 20,9 hektare ini kini berubah wajah menjadi hamparan tanah gersang yang retak-retak. Ironisnya, lokasi yang biasanya dipenuhi air itu kini beralih fungsi menjadi lapangan bermain layang-layang bagi anak-anak setempat. Pemandangan ini mencerminkan betapa ekstremnya dampak kemarau yang melanda wilayah Nganjuk pada paruh kedua tahun ini.
Dampak mengeringnya Waduk Sumberkepuh sangat dirasakan oleh sektor pertanian lokal. Waduk ini memegang peran krusial sebagai sumber irigasi utama bagi sekitar 400 hektare lahan pertanian di sekitarnya. Tanpa pasokan air yang memadai, para petani kini dihadapkan pada ancaman nyata gagal panen (puso) yang dapat memicu kerugian finansial yang sangat besar.
Ancaman Gagal Panen dan Solusi Darurat bagi Petani
Kondisi kritis ini memaksa sebagian petani untuk memutar otak demi menyelamatkan tanaman mereka yang mulai layu. Beberapa di antaranya terpaksa mengeluarkan biaya ekstra yang cukup tinggi untuk menyedot air tanah menggunakan mesin pompa. Padahal, debit air bawah tanah pun kian menyusut seiring berjalannya waktu. Bagi petani dengan modal terbatas, pasrah terhadap alam menjadi pilihan pahit yang terpaksa mereka ambil.
Kekeringan di Nganjuk ini menjadi alarm keras bagi ketahanan pangan daerah. Para petani sangat berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan memberikan bantuan darurat berupa pompa air, pembuatan sumur bor dalam, serta skema bantuan bagi petani yang terdampak parah. Jika tidak segera ditangani, krisis irigasi ini tidak hanya merugikan petani secara ekonomi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas pasokan pangan di tingkat regional.

