Aktivitas vulkanik Gunung Api Ili Lewotolok yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam kurun waktu 48 jam terakhir, gunung api aktif ini dilaporkan telah mengalami rangkaian erupsi sebanyak empat kali berturut-turut. Fenomena alam ini memicu keluarnya imbauan keselamatan ketat dari pihak berwenang guna mengantisipasi dampak buruk bagi masyarakat sekitar.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pos Pemantauan Gunung Api Ili Lewotolok, letusan dengan intensitas terbesar terjadi pada hari Minggu pagi pukul 06.41 WITA. Erupsi tersebut memuntahkan kolom abu tebal berwarna kelabu setinggi kurang lebih 600 meter di atas puncak kawah, atau sekitar 2.023 meter di atas permukaan laut. Emisi abu vulkanik ini terpantau bergerak condong ke arah tenggara. Seismograf mencatat aktivitas ini memiliki amplitudo maksimum mencapai 40 mm dengan durasi gempa letusan selama 82 detik.
Hanya berselang beberapa puluh menit sebelumnya, tepatnya pukul 06.11 WITA, gunung ini juga sempat meletus dengan ketinggian kolom abu mencapai 400 meter yang mengarah ke barat. Sementara itu, pada hari Sabtu, tercatat dua kali letusan beruntun dengan tinggi masing-masing 500 meter pada pukul 06.51 WITA dan 400 meter pada pukul 07.02 WITA.
Petugas Pos Pemantauan, Khairul Imam Tarmizi, menjelaskan bahwa fluktuasi aktivitas vulkanik ini memerlukan pengawasan yang sangat intensif. Karakteristik erupsi yang terjadi secara berulang menunjukkan bahwa suplai magma di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung secara dinamis.
Merespons situasi darurat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan rekomendasi zona bahaya. Masyarakat setempat serta wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun dalam radius 2 kilometer dari pusat kawah aktif. Selain itu, perluasan sektoral sejauh 3 kilometer juga diberlakukan pada area selatan dan tenggara guna menghindari ancaman material vulkanik.
Masyarakat di lereng Gunung Ili Lewotolok juga diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi bahaya sekunder seperti aliran lava, guguran longsoran batu, serta ancaman awan panas. Penggunaan masker pelindung mulut dan hidung serta kacamata sangat disarankan untuk menghindari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan abu vulkanik yang pekat.

